ESUME
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Prinsip Belajar Mengajar dan Keterampilan Dalam Mengajar
Di Susun Oleh :
Diki Wahyudi . S
:
1620234
Dosen Pembimbing:
Yessi Rifmasari, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2019
BELAJAR DAN MENGAJAR
a. Belajar
Belajar adalah tindakan mendapatkan pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dengan memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan tugas apa pun dengan mensintesis berbagai jenis informasi yang dirasakan oleh kami.Belajar membawa perubahan dalam perilaku individu yang ada.
Belajar menurut beberapa ahli ialah:
Belajar adalah proses dimana perilaku (dalam pengertian asrama) berasal atau berubah melalui latihan atau pelatihan. (Kingsley dan Garry)
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam potensi perilaku yang terjadi sebagai hasil dari latihan yang diperkuat. (kimble)
Belajar adalah perolehan dari perilaku baru atau penguatan atau melemahnya perilaku lama sebagai hasil dari pengalaman. (Henry P Smith)
Belajar didefinisikan sebagai perolehan kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Ini melibatkan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, dan itu beroperasi dalam upaya individu untuk mengatasi hambatan atau menyesuaikan diri dengan situasi baru. Ini mewakili perubahan progresif dalam perilaku. Itu memungkinkan dia memuaskan minat untuk mencapai tujuan.
Menurut Cronbach, Harold Spears, dan Geoch (dalam Sardiman AM, 2005:20) memberikan pengertian tentang belajar sebagai berikut :
Cronbach memberikan definisi “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
Harold Spears memberikan batasan”Learning is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to listen, to follow direction”. Belajar adalah mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan.
Geoch, mengatakan “Learning is a change in performance as a result of practice”. Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.
Dari beberapa definisi tentang belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Process (dalam Muhibbin Syah, 2003: 64) yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian) tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, belajar adalah ...a process of progressive behaviour adaptation.
b. Mengajar
Istilah belajar dan mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda, akan tetapi antara keduanya terdapat suatu hubungan yang erat sekali. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi satu sama lain. Antara kedua kegiatan itu saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain. Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Menurut Oemar Hamalik, mengajar memiliki beberapa definisi penting, diantaranya :
Mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah.
Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
Mengajar adalah usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.
Mengajar atau mendidik itu adalah memberikan bimbingan belajar kepada murid.
Mengajar adalah kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Mengajar adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, “ Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa guna membantu siswa menghadapi masalah yang terdapat pada kehidupan sehari-hari
PRINSIP BELAJAR DAN MENGAJAR
Prinsip Belaja
Menurut Keller (dalam Prasetya, 1997):
Attention : perhatian muncul karena didorong oleh rasa ingin tahu.
Relevansi : hubungan materi dengan kebutuhan dan kondisi siswa.
Confidence/percaya diri : mendorong dan memotivasi.
Satisfaction/ kepuasan : keberhasilan,kepuasan, memotivasi untuk melakukan kembali.
Prinsip Mengajar
Stimulation : suatu upaya yang melahirkan atau menyebabkan lahirmya motivasi pada diri siswa untuk mempelajari sesuatu yang baru, yakni dengan menciptakan sesuatu yang penting untuk dipelajari.
Guidance ( bimbingan ) : membantu siswa untuk mengembangakan kemampuannya, keterampilan, sikap dan pengetahuan sampai tingkat maksimum bagi penyesuaian yang tepat dengan lingkunganya serta mendorong siswa untuk memiliki keberanian dan antusiasme dalam mencapai belajar secara maksimum.
Direction ( mengarahkan ) : mengajar bukanlah sesuatu yang sembarangan tetapi mengajar adalah suatu kegiatan yang bertujuan, yang mengarah pada perilaku yang sudah ditetapkan.
Encouragement of learning ( memiliki keberanian dalam mengajar) : membantu siswa dalam berbagai tindakan yang sesuai dengan apa yang diarahkan oleh guru pada tingkat, prinsip, dan professional tertentu.
KETERAMPILAN - KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan Mengajar Seorang Guru
Tidak bisa berhasil jika dia tidak bisa menyampaikan ilmunya kepada murid-muridnya tidak peduli seberapa kompeten dia dalam materi pelajaran. Oleh karena itu, guru perlu memiliki keterampilan mengajar (Erden, 2007; Tezcan, 1996)). Guru mengendalikan proses belajar dan mengajar dengan cara merencanakan dan melaksanakan pelajaran, mengevaluasi siswa, menjaga ketertiban di kelas dan memastikan bahwa siswa mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat bermanfaat bagi mereka untuk mencapai tujuan pelajaran (un Acokgoz , 2004).
Guru, yang memungkinkan interaksi di antara unsur-unsur utama sistem pendidikan seperti siswa, program pendidikan, guru dan lingkungan (Posner, 1995) dan yang mengambil tugas mendidik individu muda yang dibutuhkan masyarakat, memiliki tempat khusus dan kepentingan dalam ruang lingkup elemen-elemen utama ini. Profesi mengajar mulai berkembang dengan munculnya pendidikan sebagai bidang profesi dan panggilan. Sudah lama diperdebatkan apakah mengajar itu profesi atau bukan. Pada akhirnya, disepakati bahwa mengajar adalah profesi yang berbeda dan bahwa ia memiliki semua kualitas yang harus dimiliki oleh suatu profesi (Tezcan, 1996).
Karakteristik Pengajaran Yang Baik
Sulit untuk mengatakan apa itu pengajaran yang baik, karena dapat mengambil banyak bentuk. Untuk mengilustrasikan argumen ini, itu yang diharapkan bahwa ceramah memberikan kesempatan untuk menunjukkan perilaku mengajar yang berbeda kepada mereka yang mungkin terlihat dalam tutorial, lokakarya, laboratorium, atau online. Demikian pula halnya dengan kardinalitas hubungan guru dengan siswa memungkinkan berbagai bentuk komunikasi dan teknik pengajaran yang akan diterapkan untuk membantu belajar untuk efek yang berbeda. Juga, di mana kegiatan belajar mengajar yang saling melengkapi (misalnya guru membrikan informasi kepada siswa tentang praktik laboratorium) fokus pada berbagai aspek pembelajaran atau berbagai langkah dalam proses pembelajaran, mungkin ada perbedaan yang diperlukan dalam perilaku mengajar yang bisa diamati dalam pengaturan yang berbeda.
Nulty (2001) menunjukkan: Karakteristik pengajaran yang baik tidak berubah; apa perubahan adalah cara-cara di mana masing-masing guru mewujudkan karakteristik itu. Boyer (1990) menggambarkan mengajar sebagai:
Usaha dinamis yang melibatkan semua analogi, metafora, dan gambar itu
membangun jembatan antara pemahaman guru dan pembelajaran siswa.
Dan selanjutnya mengamati bahwa:
a. Guru yang hebat menciptakan landasan bersama dalam komitmen intelektual.
b. Mereka merangsang pembelajaran aktif, tidak pasif dan mendorong siswa untuk bersikap kritis, pemikir kreatif, dengan kapasitas untuk terus belajar.
Untuk mencapai tujuan ini, Boyer menganjurkan pendekatan ilmiah untuk kebaikan mengajar sedemikian rupa sehingga guru juga harus menjadi pembelajar, dan dengan demikian pengembang, dari mereka mengajar seni.
Satu hal kontekstual lainnya juga perlu diperhatikan: ada dua istilah yang sering digunakan ketika membahas kualitas pengajaran, dan mereka adalah: pengajaran yang baik dan efektifmengajar . Bagi kami, pengajaran yang baik lebih berkaitan dengan kualitas gurulakukan dalam persiapan, pelaksanaan dan analisis praktik mereka sendiri. Banyak mengajar instrumen pengamatan memiliki fokus pada guru, tetapi ini hanya bagian dari gambar dalam sistem pembelajaran di kelas.
Mengetahui Dan Mengembang Kerangka Kerja Untuk Pengamatan Sesama Mengajar
Merupakan tentang membangun jembatan antara pemahaman guru dan siswa belajar, maka perlu juga ada konsentrasi pada seberapa baik guru melibatkan siswa dalam proses, objek, dan keterkaitan belajar. Istilah pengajaran yang efektif berkonotasi dengan fokus yang lebih besar ini pada efek yang dimiliki kegiatan belajar mengajar pada siswa. walaupun sastra menggunakan istilah-istilah tersebut secara bergantian, dari titik ini dalam bab ini kami berikan preferensi untuk istilah pengajaran yang efektif karena ini menghitung ulang seperangkat perilaku oleh guru yang mencakup tidak hanya apa yang dilakukan guru, tetapi juga apa siswa melakukannya (Shuell, 1986), dan itu, seperti yang ditekankan oleh Biggs (2003b), adalah akhirnya lebih penting.
Karakteristik Pengajaran yang Efektif
Masih ada literatur menyediakan banyak akun yang menggambarkan karakteristik pengajaran yang efektif (contohnya meliputi: Biggs, 2003b; Chickering & Gamson, 1987; Nulty, 2001; Ramsden, 1992; Young & Shaw, 1999). Di mana kita mulai dalam bab ini adalah dengan delapan karakteristik pengajaran yang efektif yang awalnya disajikan sebagai "dimensi pengajaran yang baik ”(Nulty, 2001).
Nulty (2001) (ia memanggil mereka dimensi) diikuti dengan pertimbangan sumber literatur lebih lanjut yang mendukung masing-masing, dan perbaikan yang dilakukan untuk masing-masing.
Dimensi 1 - Apakah Guru dengan Jelas Menyampaikan Tujuan Pembelajaran danTujuan?
Kejelasan maksud dan tujuan berguna dari sudut pandang guru, karena itu erarti bahwa tindakan mengajar dapat dilakukan dengan tujuan, sengaja dan terencana. Saya berarti bahwa guru diberdayakan melalui agen aktif.
Pada akhirnya, pengajaran yang efektif haruslah siswa terpusat karena jika mengajar dianggap sebagai 'efektif' maka itu harus mendukung peserta didik ' belajar. Ada dasar sastra yang kuat untuk mendukung karakteristik pengajaran yang efektif ini. Misalnya, standar pertama Glassick (2000) untuk beasiswa sebagaimana diterapkan pada pengajaran adalah ketentuan tujuan yang jelas yang: memberikan tujuan dasar untuk suatu kelas; menetapkan Tujuan Pembelajaran; realistis dan dapat dicapai; dan mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan penting di bidang yang dibahas oleh pelajaran. Demikian juga, prinsip keempat Ramsden (1992) dari pengajaran yang efektif mempromosikan penyediaan tujuan yang jelas dan tantangan intelektual, menyarankan bahwa tujuan pembelajaran harus dengan jelas memperpanjang arus siswa pemahaman dan kemampuan.
Tujuan pembelajaran yang jelas pada awal setiap kelas memastikan bahwa siswa menyadari harapan belajar, persyaratan untuk penilaian, dan memanfaatkan pendekatan strategis untuk pembelajaran (Entwistle, 2001) yang banyak dilakukan siswa mengadopsi dalam pendidikan tinggi.
Dimensi 2 - Apakah Guru Menunjukkan Pengetahuan Konten Lanjutan dan Keterampilan Pedagogis?
Karakteristik pengajaran yang efektif ini memiliki dua perbedaan dan sama pentingnya aspek: pengetahuan konten disiplin, dan keterampilan pedagogis. Pengetahuan konten dan pedagogi yang efektif terkait erat. Istilah "konten pedagogis pengetahuan ”pertama kali dijelaskan oleh Shulman (1986) sebagai [Melampaui] pengetahuan tentang materi pelajaran per se ke dimensi subjek pengetahuan materi untuk mengajar.
Dimensi 3 - Apakah Guru Menunjukkan Karakteristik Pribadi yang Cocok?
Penting untuk dicatat bahwa dimensi ini harus difokuskan pada kepribadian tertentu
ciri-ciri dan bukan penilaian umum tentang kepribadian guru. Itu juga penting untuk memastikan bahwa dimensi ini tidak dapat diartikan sebagai peluang untuk karakter pembunuhan. Sementara ini mungkin hanya masalah kesopanan sederhana di Barat dunia, dalam beberapa budaya Asia ada implikasi serius bagi pribadi atau keluarga kehormatan dan martabat jika umpan balik menghasilkan persyaratan bagi seorang guru untuk menyelamatkan muka (Leung & Cohen, 2011).
Dimensi 4 - Apakah Guru Memperlihatkan Kepedulian kepada Siswa dan Mereka Belajar?
Karakteristik ini secara terang-terangan mengangkat fokus dari guru dan kepribadian mereka ciri-ciri, untuk memenuhi kebutuhan siswa - yang menunjukkan siswa yang berpusat pada siswa pendekatan untuk mengajar. Prinsip kedua Ramsden (1992) untuk pengajaran yang efektif berkaitan dengan kepedulian dan rasa hormat kepada siswa dan melibatkan kemurahan hati seorang guru orang, kebajikan, kerendahan hati, minat yang jelas dalam mengajar, dan ketersediaannya kepada siswa untuk bantuan
Dimensi 5 - Apakah Guru Terlibat dan Berkomitmen pada Penggunaan Formatif Prosedur Penilaian?
Prinsip kunci keenam Ramsden (1992) untuk pengajaran yang efektif di pendidikan tinggi adalah bahwa guru universitas harus belajar dari siswa mereka dengan menilai secara terus menerus efek pengajaran mereka pada pembelajaran siswa danmemodifikasi pendekatan mereka berdasarkan pada bukti itu. Dalam penggambaran ini, penilaian formatif adalah tentang mencari tahu apa siswa memahami dan kemudian, jika perlu, memberikan umpan balik perkembangan atau menyusun kegiatan yang sesuai untuk memperbarui pemahaman itu. Kunci ketiga Ramsden Prinsipnya menyangkut penyediaan penilaian dan umpan balik yang tepat untuk siswa.
Dimensi 6 - Apakah Guru Fokus pada Mendorong Hasil Pembelajaran yang Mendalam?
Hasil belajar yang mendalam adalah yang secara kolektif terdiri dari pemahaman, dan kemampuan untuk menerapkan pemahaman itu, bukan hanya menghafal (Marton & Saljo, 1976). Hasil pembelajaran yang mendalam kemudian dianggap sebagai hasil belajar berkualitas tinggi. Mencapai hasil seperti itu terjadi sebagai hasil dari mengadopsi pendekatan yang mendalam belajar (Biggs, 1987; Entwistle, McCune, & Walker, 2001; Marton & Saljo, 1984), dan menghasilkan ini adalah bagian dari peran guru yang efektif. Dapat dikatakan bahwa tidak setiap kegiatan belajar mengajar dimaksudkan untuk itu menimbulkan hasil belajar tingkat tinggi.
Dimensi 7 - Apakah Guru Menunjukkan Desain Kurikulum yang Efektif?
Kurikulum dapat dianggap secara luas sebagai silabus atau program studi yang ada terdiri dari empat elemen penting yang terhubung: konten; mengajar dan belajar strategi; proses penilaian; dan proses evaluasi (Prideaux, 2003). Juga meliputi struktur dan urutan (Kember & Wong, 2000) kegiatan dan item penilaian - dalam satu pelajaran atau kelas; melintasi kursus atau unit saat dibuka; dan selaras dengan kurikulum kursus terkait dalam suatu program atau gelar.
Dimensi 8 - Apakah Guru Menunjukkan Komitmen Meningkatkan MerekaPengajaran?
Karakteristik ini berbicara dengan pendekatan ilmiah seorang guru untuk pengajaran dan sampai batas tertentu, beasiswa mengajar. Pendekatan ilmiah untuk mengajar adalah tentang menjadi praktisi reflektif (Biggs, 2001; Boud, 1999; Kane, Sandretto, & Heath, 2004; Leitch & Day, 2000; Schön, 1983) dan tentang terlibat dengan ilmiah literatur untuk menginformasikan praktik mengajar (Shulman, 1986, 1987). Beasiswa mengajar dibangun berdasarkan pendekatan ilmiah dengan mempublikasikan praktik dan membukanya ulasan sejawat dan kritik terhadap standar yang diterima (Hutchings & Shulman, 1999).Keterampilanmengajar adalah kecakapan atau kemampuan pengajar dalam menjelaskan konsep terkait dengan materi pembelajaran. Dengan demikian seorang pengajar harus mempunyai persiapan mengajar, antara lain harus menguasai bahan pembelajaran mampu memilih strategi, metode dan media, penguasaan kelas yang baik, serta menentukan system penilaian yang tepat.
1. Keterampilan Bertanya
2. Keterampilan Memberi Penguatan
3. Keterampilan Menggunakan Variasi
4. Keterampilan Menjelaskan
5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
6. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
7. Keterampilan Mengelola Kelas
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
TUJUAN KETERAMPILAN MENGAJAR
Supaya guru atau tenaga pendidik dapat memahami hakikat keterampilan dasar mengajar yang dapat dipraktikan didalam kelas
Untuk membekali tenaga pendidik beberapa keterapilan dasar mengajar dan pembelajara.
MACAM – MACAM KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban siswa. Brown menyatakan bahwa bertanya adalah setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri siswa.
Komponen keterampilan bertanya yang perlu dikuasi guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.
Komponen keterampilan bertanya dasar mencakup:
Penggunaan pertanyaan yang jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan sesuai taraf perkembangannya.
Pemberian acuan, berupa pernyataan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.
Pemindahan giliran dan menyebar pertanyaan, untuk melibatkan seluruh siswa semaksimal mungkin agar tercipta iklim pembelajaran yang menyenangkan.
Pemberian waktu berpikir pada siswa.
Pemberian tuntunan, guru hendaknya memberikan tuntunan agar murid dapat menjawab sendiri ketika terdapat kesalahan dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh guru.
Sedangkan komponen keterampilan bertanya tingkat lanjut yang perlu diperhatikan adalah:
Pengubahan tuntunan tingkat kognitif, guru hendaknya dapat mengubah tuntunan tingkat kognitif siswa dalam menjawab pertanyaan dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat yang lebih tinggi, yaitu: evaluasi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis.
Pengaturan urutan pertanyaan, pertanyaan yang diajukan hendaknya mulai dari sederhana menuju yang paling kompleks secara berurutan.
Pertanyaan pelacak, diberikan jika jawaban yang diberikan peserta didik kurang tepat.
Mendorong terjadinya interaksi, untuk mendorong terjadinya interaksi, sedikitnya perlu memperhatikan dua hal berikut: pertanyaan hendaknya dijawab oleh seorang peserta didik tetapi seluruh peserta didik diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman dekatnya dan guru hendaknya menjadi dinding pemantul
2. Keterampilan Memberikan Penguatan
Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.Respon positif yang dilakukan guru atas perilaku positif yang dicapai anak dalam proses pembelajaran disebut juga dengan penguatan.
Penguatan atau reinforcement adalah segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpanbalik (feedback) bagi siswa atas perbuatan atau responnya yang diberiakan sebagai suatu dorongan atau koreksi.
Ada dua jenis komponen penguatan yang bisa diberikan oleh guru, yaitu:
Penguatan Verbal.
Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata, baik kata-kata pujian, dukungan, dan penghargaan atau kata-kata koreksi.39Melalui kata-kata itu siswa akan merasa tersanjung dan berbesar hati sehingga ia akan merasa puas dan terdorong untuk lebih aktif belajar. Misalnya: pintar sekali, bagus, betul, tepat sekali, dan lain-lain.
Penguatan Nonverbal.
Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat.Contoh dari penguatan nonverbal yaitu:
Penguatan gerak isyarat atau gerakan mimik dan badan (gestural). Dalam hal ini guru dapat mengembangkan sendiri bentuk-bentuknya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku sehingga dapat memperbaikiinteraksi guru dan siswa.
Penguatan pendekatan, misalnya: guru duduk didekat siswa, berdiri disamping siswa, atau berjalan di sisi siswa. Penguatan ini berfungsi menambah penguatan verbal.
Penguatan dengan sentuhan (contact), guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan cara menepuk-nepuk pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.
Penguatan dengan kegiatan menyenangkan.
Penguatan berupa simbol-simbol dan benda, misalnya: kartu bergambar, bintang , dan lain-lain.
Keterampilan Menggunakan Variasi
Menggunakan variasi diartikan sebagai aktivitas guru dalam konteks proses pembelajaran yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar siswa selalu menunjukkan ketekunan, perhatian, keantusiasan, motivasi yang tinggi dan kesediaan berperan secara aktif.Variasi mengajar adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para siswa serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan.
Keterampilan Menjelaskan
Menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menuntut guru untuk memberikan penjelasan.
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai dan dilatih oleh para guru agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif, efisien, dan menarik. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam membuka dan menutup pelajaran mulai dari awal hingga akhir pelajaran.
Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah.
Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya, apabila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.Suatu kondisi yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Dharmaraj, Dr.William. 2015. LEARNING AND TEACHING B.Ed. I YEAR.
Departement of Education Manonmaniam Sundaranar University,
Tirunelveli
Crawford, Alan. 2015. TEACHING AND LEARNING STRATEGIES FOR
THE THINKING CLASSROOM. The International Debate Educaation Association
Boyer, E. L. (1990). Scholarship reconsidered: Priorities of the professoriate. Menlo Park, CA: Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching
Entwistle, N. (2001). Styles of learning and approaches to studying in higher education. Kybernetes, 30(5/6), 593–603
SUMBER E-BOOK
https://www.sensepublishers.com/media/2489-teaching-for-learning-and-learning-for-teaching.pdf
https://translate.google.com/translate?hl=id&sl=en&u=https://www.sensepublishers.com/media/2489-teaching-for-learning-and-learning-for-teaching.pdf&prev=search
https://www.researchgate.net/publication/248607615_The_teaching_profession_knowledge_of_subject_matter_teaching_skills_and_personality_trait
Jumat, 23 Agustus 2019
RESUME
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas
OLEH:
Diki Wahyudi. S
1620234
DOSEN PENGAMPU : Yessi Rifmasri, M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ( PGSD )
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) ADZKIA
2018/2019
Pengertian Prinsip-Prinsip Manajemen kelas
Dalam manajemen kelas terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan sebagai prasyarat menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan efisien, yaitu (Muhaimin,2002:137-144):
Prinsip Kesiapan (Readiness)
Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.2. Prinsip Motivasi (Motivation)
Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
Prinsip Perhatian
Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu berorientasi pada suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam proses pembelajaran perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya.
Prinsip Persepsi
Prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah (a) makin baik persepsi mengenai sesuatu makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut. (b) dalam pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari (c) dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih akurat.
Prinsip Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu, retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran.
Prinsip Transfer
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat memengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam pekerjaan yang akan dihadapi kelak.
Permasalahan Dalam Prinsip Manajemen Kelas
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1) Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
Powerseeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) : Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam) : Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
Helplessness (peragaan ketidakmampuan) : Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri para siswa. Diantaranya yaitu :
a. Jika guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari perhatian.
b. Jika guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
c. Jika guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d. Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2) Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a. Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b. Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang : Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e. Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f. Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
Mengajar sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman dan motivator.
Berdasarkan pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Masalah pengarahan : Di waktu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar, kebanyakan guru kurang memiliki keterampilan dalam:
a. Berorientasi kepada tujuan pelajaran.
b. Mengkomunikasikan tujuan pelajaran kepada siswa.
c. Memahami cara merumuskan tujuan umum dan khusus.
d. Menyesuaikan tujuan pelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
e. Merumuskan tujuan instruksional jelas.
Keadaan ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut, mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.
2. Masalah evaluasi dan penilaian : Guru dalam tugasnya untuk merencanakan, melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a. Guru dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas
b. Prosedur evaluasi tidak jelas
c. Guru tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang efisien dan efektif.
d. Kebanyakan guru memiliki cara penilaian yang tidak seragam.
e. Guru kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f. Guru tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai bahan umpan balik.
Dengan evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai pengaruh pengajaran yang diberikan atau tidak.
3. Masalah isi dan urut-urutan pelajaran : Dalam membuat perencanaan pengajaran, yang kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi, guru dalam menyusun isi dan urutan bahan pelajaran menemukan masalah sebagai berikut:
a. Guru kurang menguasai materi
b. Materi yang disajikan tidak relevan dengan tujuan
c. Materi yang diberikan sangat luas
d. Guru kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan dengan waktu yang tersedia
e. Guru kurang terampil dalam mengorganisasikan materi pelajaran.
f. Guru kurang mampu mengembangkan materi pelajaran yang diberikannya.
g. Guru kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran dari materi pelajaran yang diberikan.
4. Masalah metode dan sistem penyajian bahan pelajaran : Agar guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a. Guru kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang menarik dan efektif.
b. Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran dan materi pelajaran.
c. Kurang terampil dalam menggunakan metode
d. Sangat terikat pada satu metode saja
e. Guru tidak memberikan umpan balik pada tugas yang dikerjakan siswa.
5. Masalah hambatan-hambatan : Dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya ialah:
a. Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
b. Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
c. Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.
d. Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah
e. Keadaan sarana yang kurang
f. Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.
Dengan menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah.
Kebijakan tentang prinsip manajemen kelas
prinsip manajemen sebagaimana yang dikemukakan oleh Henry Fayol yang sebagian besardapat diaplikasikansecara penuh untuk mengelola sekolah – termasuk kelas di dalamnya dengan baik, seperti pembagian kerja, keseimbangan wewenang dan tanggungjawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arah, mengutamakan kepentingan organisasi (sekolah) di atas kepentingan individu, kompensasi yang adil, sentralisasi, rantai scalar, tata tertib, keadilan, stabilitas kondisi karyawan (tenaga kependidikan yang ada di sekolah), inisiatif dan semangat kesatuan.
Atau paling tidak terdapat 4 (empat) prinsip yang digunakan MBSuntuk mengelola sekolah dan seterusnya ke kelas, yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip system pengelolaan mandiri , dan prinsip inisiatif sumber daya manusia (SDM). Di mana dari atau dalam hubungan dengan prinsip-prinsip ini dapat dilihat beberapa pengertian tentang pengelolaan kelas sebagai berikut,
pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif, yakni seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas, disiplin sangat diutamakan;
pengelolaan kelas yang bersifat permisif, yakni pandangan ini menekankan bahwa tugas guru adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa;
pengelolaan kelas yang berdasarkan prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku;
DAFTAR PUSTAKA
Hasri, Salfen. 2009. Sekolah Efektif dan Guru Efektif. Yogyakarta: Aditya Media Printing and Publising.
Nawawi, Hadari. 1982. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta : Gunung Agung.
Arikunto, Suharsimi. 1992. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Wijaya, Cece dan Rusyan, A. Tabrani. 1994. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Zanafa Publishing.
Muhaimin. 2002. Paradigma Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosyda Karya.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Almasawi,dkk. 2010. Masalah-masalah dalam Manajemen Kelas.
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas
OLEH:
Diki Wahyudi. S
1620234
DOSEN PENGAMPU : Yessi Rifmasri, M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ( PGSD )
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) ADZKIA
2018/2019
Pengertian Prinsip-Prinsip Manajemen kelas
Dalam manajemen kelas terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan sebagai prasyarat menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan efisien, yaitu (Muhaimin,2002:137-144):
Prinsip Kesiapan (Readiness)
Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.2. Prinsip Motivasi (Motivation)
Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
Prinsip Perhatian
Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu berorientasi pada suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam proses pembelajaran perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya.
Prinsip Persepsi
Prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah (a) makin baik persepsi mengenai sesuatu makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut. (b) dalam pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari (c) dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih akurat.
Prinsip Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu, retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran.
Prinsip Transfer
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat memengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam pekerjaan yang akan dihadapi kelak.
Permasalahan Dalam Prinsip Manajemen Kelas
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1) Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
Powerseeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) : Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam) : Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
Helplessness (peragaan ketidakmampuan) : Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri para siswa. Diantaranya yaitu :
a. Jika guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari perhatian.
b. Jika guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
c. Jika guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d. Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2) Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a. Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b. Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c. Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d. Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang : Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e. Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f. Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
Mengajar sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman dan motivator.
Berdasarkan pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Masalah pengarahan : Di waktu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar, kebanyakan guru kurang memiliki keterampilan dalam:
a. Berorientasi kepada tujuan pelajaran.
b. Mengkomunikasikan tujuan pelajaran kepada siswa.
c. Memahami cara merumuskan tujuan umum dan khusus.
d. Menyesuaikan tujuan pelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
e. Merumuskan tujuan instruksional jelas.
Keadaan ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut, mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.
2. Masalah evaluasi dan penilaian : Guru dalam tugasnya untuk merencanakan, melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a. Guru dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas
b. Prosedur evaluasi tidak jelas
c. Guru tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang efisien dan efektif.
d. Kebanyakan guru memiliki cara penilaian yang tidak seragam.
e. Guru kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f. Guru tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai bahan umpan balik.
Dengan evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai pengaruh pengajaran yang diberikan atau tidak.
3. Masalah isi dan urut-urutan pelajaran : Dalam membuat perencanaan pengajaran, yang kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi, guru dalam menyusun isi dan urutan bahan pelajaran menemukan masalah sebagai berikut:
a. Guru kurang menguasai materi
b. Materi yang disajikan tidak relevan dengan tujuan
c. Materi yang diberikan sangat luas
d. Guru kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan dengan waktu yang tersedia
e. Guru kurang terampil dalam mengorganisasikan materi pelajaran.
f. Guru kurang mampu mengembangkan materi pelajaran yang diberikannya.
g. Guru kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran dari materi pelajaran yang diberikan.
4. Masalah metode dan sistem penyajian bahan pelajaran : Agar guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a. Guru kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang menarik dan efektif.
b. Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran dan materi pelajaran.
c. Kurang terampil dalam menggunakan metode
d. Sangat terikat pada satu metode saja
e. Guru tidak memberikan umpan balik pada tugas yang dikerjakan siswa.
5. Masalah hambatan-hambatan : Dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya ialah:
a. Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
b. Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
c. Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.
d. Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah
e. Keadaan sarana yang kurang
f. Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.
Dengan menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah.
Kebijakan tentang prinsip manajemen kelas
prinsip manajemen sebagaimana yang dikemukakan oleh Henry Fayol yang sebagian besardapat diaplikasikansecara penuh untuk mengelola sekolah – termasuk kelas di dalamnya dengan baik, seperti pembagian kerja, keseimbangan wewenang dan tanggungjawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arah, mengutamakan kepentingan organisasi (sekolah) di atas kepentingan individu, kompensasi yang adil, sentralisasi, rantai scalar, tata tertib, keadilan, stabilitas kondisi karyawan (tenaga kependidikan yang ada di sekolah), inisiatif dan semangat kesatuan.
Atau paling tidak terdapat 4 (empat) prinsip yang digunakan MBSuntuk mengelola sekolah dan seterusnya ke kelas, yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip system pengelolaan mandiri , dan prinsip inisiatif sumber daya manusia (SDM). Di mana dari atau dalam hubungan dengan prinsip-prinsip ini dapat dilihat beberapa pengertian tentang pengelolaan kelas sebagai berikut,
pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif, yakni seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas, disiplin sangat diutamakan;
pengelolaan kelas yang bersifat permisif, yakni pandangan ini menekankan bahwa tugas guru adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa;
pengelolaan kelas yang berdasarkan prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku;
DAFTAR PUSTAKA
Hasri, Salfen. 2009. Sekolah Efektif dan Guru Efektif. Yogyakarta: Aditya Media Printing and Publising.
Nawawi, Hadari. 1982. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta : Gunung Agung.
Arikunto, Suharsimi. 1992. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Wijaya, Cece dan Rusyan, A. Tabrani. 1994. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Zanafa Publishing.
Muhaimin. 2002. Paradigma Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosyda Karya.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Almasawi,dkk. 2010. Masalah-masalah dalam Manajemen Kelas.
RESUME
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Pendekatan dalam Manajemen Kelas
OLEH:
Diki Wahyudi. S
1620234
DOSEN PENGAMPU : Yessi Rifmasri, M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ( PGSD )
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) ADZKIA
2018/2019
Pengertian Pendekatan Manajemen Kelas
Pendekatan pembelajaran diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang dalam dalam proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang bersifat umum. Adapun pendekatan merupakan unsur penting yang harus dikuasai pengajar sebelum mempersiapkan perencanaan .
Sebagai pekerja profesional, seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan kelas, sebab didalam penggunaannya ia harus terlebih dahulu meyakinkan bahwa pendekatan yang dipilihnya untuk menangani sesuatu kasus pengelolan kelas merupakan alternatif yang terbaik sesuai dengan hakikat masalahnya. Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan sesuatu Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan sesuatu pendekatan memang cocok dengan hakikat masalah yang ingin ditanggulangi. Ini tentu tidak dimaksudkan mengatakan bahwa seorang guru akan berhasil baik setiap kali menangani kasus pengelolaan kelas. Sebaliknnya, keprofesionalan cara kerja seorang guru adalah demikian sehingga apabila alternatif tindakannya yang pertama tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka ia masih mampu melakukan analisis ulang terhadap situasi untuk kemudian tiba pada alternatif pendekatan yang kedua dan seterusnya.
Sikap Guru Dalam Manajemen Kelas
Sejak lahirnya pekerjaan mengajar, saat itu pulalah muncul istilah guru, meskipun tidak bersifat formal. Saat itupun telah dimulai upaya peningkatan hasil belajar peserta didik, baik secara sederhana sampai upaya peningkatan secara metodis. Berbagai komponen pembelajaran selalu memperoleh sorotan: guru, siswa, kurikulum, dan berbagai infra strukturnya. Memperhatikan peranan guru, berikut dapat diuraikan pola tingkah laku guru dalam pengelolaan kelas sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan (Satori, 2008: 78).Pertama, kualitas pembelajaran akan bervariasi sesuai variasi guru. Guru adalah manusia dan manusia adalah unik. Setiap manusia memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. Dengan adanya keunikan tersebut lahirlah situasi pembelajaran sesuai ciptaan yang unik pula. Apabila dibeberapa bagian terdapat kesamaan, hal ini mungkin terlibatnya unsure lain yang ikut serta atau ersama-sama mencipta situasi pembelajaran secara utuh.
Kedua, kualitas pembelajaran tergantung waktu guru beraksi. Situasi pembelajaran tercipta oleh seorang guru akan berbeda dari waktu ke waktu. Seorang guru A mengajar ceria dipagi hari, akan tetapi berubah ketika mengajar di siang hari. Terkadang guru kaku dan keras, tetapi dilain waktu cukup toleran dan demokratis. Latar belakang psikologis sesaat sangat berpengarh terhadap aksi guru di dalam kelas. Latar belakang psikologis tersebut tergantung pada: hari, tanggal, jam, suasana, dan lain-lain.
Ketiga, kualitas pembelajaran bervariasi tergantung subjek didik. Seorang guru dari rumah berangkat dengan suasana hati yang gembira, sampai di kantor bertemu kepala sekolah dan rekan guru semakin menunjang rasa gembiranya, akan tetapi ketika sampai di kelas bertemu dengan kelompok siswa yang saat itu kurang bergairah, ramai, dan bertingkah laku masing-masing, keceriaan yang seharusnya menambah semangat guru dalam mengajar dapat berubah total karena kelompok siswa yang akan diajar kurang mendukung.
Keempat, kualitas pembelajaran tergantung kemampuan guru menguasai kurikulum. Kemampuan guru berbeda dalam menterjemahkan kurikulum tingkat kelas. Ada guru yang mengajar secara urut mengikuti kurikulum, ada yang mengikuti buku, ada yang membuat perencanaan, dan tidak jarang yang mengajar sesuai dorongan saat itu. Kondisi demikian jelas akan mempengaruhi kualitas pembelajaran.
Kelima, kualitas pembelajaran tergantung kemampuan guru memilih metode mengajar. Kemampuan guru menterjemahkan kurikulum, penguasaan substansi materi, akan menentukan pemilihan metode mengajar. Pemilihan metode juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non teknis.
Peran Guru Sekolah Dasar dalam Manajemen Kelas
Salah satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Padmono (2011, 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat terlihat, adapun peran guru dalam memenej kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya pasif menerima.
Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk :
Seating chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok mempu menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di kelasnya, sehingga sikap menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan pandangan mereka sendiri.
Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
Tapal kuda
Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.
Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila sewaktu-waktu digunakan akan cepat.
Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu: (a) menata ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik (Immersion). Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan mengalami pembelajaran secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna, (b) penataan meja guru, gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid an indah.
Cahaya, Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada tahap perkembangan yang menentukan, untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah satu tugas managemen kelas oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang tetapi jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru bergema, akibatnya anak kurang mampu memusatkan perhatian pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh gema suara. Untuk itu disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna disamping memiliki arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah atau kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal di kelasnya.
faktor-faktor non teknis.
Macam-macam Pendekatan Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa baik secara berkelompok maupun secara individu. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas. Syaiful Bahri Djamarah menyebutkan ada berbagai pendekatan sebagai berikut:
Pendekatan kekuasaan
Pengelolan kelas diartikan sebgai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disisni adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalm kelas. Kedisiplina adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yng mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilkukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan dirtikn secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan suatu kapan aja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
Pendekatan Resep
Pendekatan resep ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapatt menggambarkan apa yang harus dan apa yang harus tidak boleh dikrjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi dikelas.
Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini didasarkan suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan an mengimplementasikan pelajaran yang baik.
Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan terapai secara mksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembabng di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Di dalam ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut.
Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan ini peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi kelas agar tetap baik.
Pendekatan iklim sosio-emosional
Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa pengelolaan kelas yang efektif memerlukan hubungan positif dengan antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa. Pendekatan iklim sosio-emosional akan tercapai secr maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas.
Pendekatan Proses Kelompok
Dalam pendekatan ini, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, selain itu guru juga harus dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
Menurut Richard A. Schmuk & Patricia A. Schmuck (dalam Y. Padmono, 2011) untuk mengelola kelas diperlukan adanya:
1. Pengharapan
Jika siswa merasa guru mengharapkan mereka berkelakuan buruk, sangat mungkin mereka akan berkelakuan buruk, sebaliknya jika siswa merasa guru mengharapkan mereka berkelakuan baik, memungkinkan pula siswa akan berkelakuan baik.
2. Kepemimpinan
guru memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi pemimpin di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, akan tetapi kelas lebih efektif jika kepemimpinan dapat dijalankan oleh guru dan siswa. Guru meningkatkan mutu interaksi dan produktifitas kelompok dengan melatih siswa mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
3. Daya tarik
mengacu pada persahabatan dalam kelompok kelas. Pengelolaan kelas efektif adalah pengelolaan yang membantu mengembangkan hubungan baik antara perorangan di antara anggota kelompok.
4. Norma-norma
norma sangat memengaruhi perseorangan karena memberikan petunjuk yang membantu anggota kelompok untuk memahami apa yang diharapkan orang lain. Guru hendaknya tidak mendominasi pembentukan norma kelompok, sebab norma bentukan guru cenderung memaksa siswa untuk menaatinya, sehingga ketaatan pada norma tersebut hanya bersifat untuk memenuhi tuntutan pihak lain.
5. Komunikasi
guru perlu mengembangkan kecakapan murid dalam berkomunikasi tertentu, mengoreksi kata-kata, dan memberi umpan balik.
6. Kesatuan
kelompok kelas akan efektif jika sebagian besar anggotanya termasuk guru sangat tertarik pada kelompok sebagai satu kesatuan. Guru dapat menciptakan kelompok kelas yang bersatu dengan membuat diskusi tentang penghargaan, dengan penyebaran kepemimpinan, mengembangkan persahabatan kelompok, dan sering menggunakan arus komunikasi dua arah.
Pendekatan Elektris atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dua atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan, selama maksud dan penggunaannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.
Selain itu, ada pendekatan manajemen kelas yang efektif yaitu :
Fokus utama pendekatan ini terletak pada perilaku efektif guru dalam mengelola perilaku dan perbuatan siswa, khususnya berkaitan dengan:
Keterampilan-keterampilan guru dalam mengorganisasikan dan mengelola aktivitas kelas
Keterampilan-keterampilan guru dalam menyajikan material belajar
Hubungan guru-siswa
DAFTAR PUSTAKA
Mudasir.2011. manajemen kelas. Pekanbaru: zanafa publishing. Hlm 29-30 cetakan ke-1
Abdurrahman. (1994). Pengelolaan Pengajaran. Ujungpandang: Bintang Selatan.
Arikunto, S. (1989). Managemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta
Padmono, Y. (2011). Manajemen Kelas. Salatiga: Widyasari.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
Satori, D. (2008). Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Pendekatan dalam Manajemen Kelas
OLEH:
Diki Wahyudi. S
1620234
DOSEN PENGAMPU : Yessi Rifmasri, M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ( PGSD )
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) ADZKIA
2018/2019
Pengertian Pendekatan Manajemen Kelas
Pendekatan pembelajaran diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang dalam dalam proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang bersifat umum. Adapun pendekatan merupakan unsur penting yang harus dikuasai pengajar sebelum mempersiapkan perencanaan .
Sebagai pekerja profesional, seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan kelas, sebab didalam penggunaannya ia harus terlebih dahulu meyakinkan bahwa pendekatan yang dipilihnya untuk menangani sesuatu kasus pengelolan kelas merupakan alternatif yang terbaik sesuai dengan hakikat masalahnya. Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan sesuatu Artinya seorang guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan sesuatu pendekatan memang cocok dengan hakikat masalah yang ingin ditanggulangi. Ini tentu tidak dimaksudkan mengatakan bahwa seorang guru akan berhasil baik setiap kali menangani kasus pengelolaan kelas. Sebaliknnya, keprofesionalan cara kerja seorang guru adalah demikian sehingga apabila alternatif tindakannya yang pertama tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka ia masih mampu melakukan analisis ulang terhadap situasi untuk kemudian tiba pada alternatif pendekatan yang kedua dan seterusnya.
Sikap Guru Dalam Manajemen Kelas
Sejak lahirnya pekerjaan mengajar, saat itu pulalah muncul istilah guru, meskipun tidak bersifat formal. Saat itupun telah dimulai upaya peningkatan hasil belajar peserta didik, baik secara sederhana sampai upaya peningkatan secara metodis. Berbagai komponen pembelajaran selalu memperoleh sorotan: guru, siswa, kurikulum, dan berbagai infra strukturnya. Memperhatikan peranan guru, berikut dapat diuraikan pola tingkah laku guru dalam pengelolaan kelas sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan (Satori, 2008: 78).Pertama, kualitas pembelajaran akan bervariasi sesuai variasi guru. Guru adalah manusia dan manusia adalah unik. Setiap manusia memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. Dengan adanya keunikan tersebut lahirlah situasi pembelajaran sesuai ciptaan yang unik pula. Apabila dibeberapa bagian terdapat kesamaan, hal ini mungkin terlibatnya unsure lain yang ikut serta atau ersama-sama mencipta situasi pembelajaran secara utuh.
Kedua, kualitas pembelajaran tergantung waktu guru beraksi. Situasi pembelajaran tercipta oleh seorang guru akan berbeda dari waktu ke waktu. Seorang guru A mengajar ceria dipagi hari, akan tetapi berubah ketika mengajar di siang hari. Terkadang guru kaku dan keras, tetapi dilain waktu cukup toleran dan demokratis. Latar belakang psikologis sesaat sangat berpengarh terhadap aksi guru di dalam kelas. Latar belakang psikologis tersebut tergantung pada: hari, tanggal, jam, suasana, dan lain-lain.
Ketiga, kualitas pembelajaran bervariasi tergantung subjek didik. Seorang guru dari rumah berangkat dengan suasana hati yang gembira, sampai di kantor bertemu kepala sekolah dan rekan guru semakin menunjang rasa gembiranya, akan tetapi ketika sampai di kelas bertemu dengan kelompok siswa yang saat itu kurang bergairah, ramai, dan bertingkah laku masing-masing, keceriaan yang seharusnya menambah semangat guru dalam mengajar dapat berubah total karena kelompok siswa yang akan diajar kurang mendukung.
Keempat, kualitas pembelajaran tergantung kemampuan guru menguasai kurikulum. Kemampuan guru berbeda dalam menterjemahkan kurikulum tingkat kelas. Ada guru yang mengajar secara urut mengikuti kurikulum, ada yang mengikuti buku, ada yang membuat perencanaan, dan tidak jarang yang mengajar sesuai dorongan saat itu. Kondisi demikian jelas akan mempengaruhi kualitas pembelajaran.
Kelima, kualitas pembelajaran tergantung kemampuan guru memilih metode mengajar. Kemampuan guru menterjemahkan kurikulum, penguasaan substansi materi, akan menentukan pemilihan metode mengajar. Pemilihan metode juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non teknis.
Peran Guru Sekolah Dasar dalam Manajemen Kelas
Salah satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal. Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu factor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Padmono (2011, 23) fasilitas kelas (instrumental in put) berkaitan erat dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in put) kondusif sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas dapat menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD dapat terlihat, adapun peran guru dalam memenej kelas agar tercipta pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
Peran guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif. Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan, penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru sedang murid hanya pasif menerima.
Peran guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat duduk dapat berbentuk :
Seating chart
Penempatan murid dalam kelas dibuat suatu denah yang pada satu periode waktu tertentu dapat diubah sesuai tuntunan pembelajaran yang sedang dikembangkan oleh guru, sehingga perkembangan dan pertumbuhan murid tidak terganggu. Penataan tempat duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya. Penataan dan gambar desain dilaksanakan secara bergilir, sehingga setiap kelompok mempu menuangkan idenya dan mengembangkan iklim demokrasi di kelasnya, sehingga sikap menghargai pendapat orang lain dengan menghilangkan pandangan mereka sendiri.
Melingkar
Model duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok, sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
Tapal kuda
Model ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.
Peran guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen. Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus, misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah, misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a) alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
Alat-alat pelajaran tersebut tidak perlu disimpan ditempat khusus, tetapi cukup diatur di dalam kelas, sehingga bila sewaktu-waktu digunakan akan cepat.
Peran guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah indah” merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat anak betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya. Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu: (a) menata ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat pelajaran sesuai kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku, penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik (Immersion). Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan mengalami pembelajaran secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna, (b) penataan meja guru, gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid an indah.
Cahaya, Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang mendukung pembelajaran. Anak SD berada pada tahap perkembangan yang menentukan, untuk itu menjaga kesehatan anak merupakan salah satu tugas managemen kelas oleh guru (Suharsimi Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman tinggal di kelas. Guru sering kurang menyadari ruangan yang terang tetapi jendela tidak dibuka serta kurangnya ventilasi menjadikan suara guru bergema, akibatnya anak kurang mampu memusatkan perhatian pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh gema suara. Untuk itu disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran udara, maka juga berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna disamping memiliki arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah atau kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal di kelasnya.
faktor-faktor non teknis.
Macam-macam Pendekatan Manajemen Kelas
Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan kegairahan siswa baik secara berkelompok maupun secara individu. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas. Syaiful Bahri Djamarah menyebutkan ada berbagai pendekatan sebagai berikut:
Pendekatan kekuasaan
Pengelolan kelas diartikan sebgai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan guru disisni adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalm kelas. Kedisiplina adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yng mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.
Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku anak didik dilkukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan dirtikn secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk mengerjakan suatu kapan aja dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
Pendekatan Resep
Pendekatan resep ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapatt menggambarkan apa yang harus dan apa yang harus tidak boleh dikrjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi dikelas.
Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini didasarkan suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan an mengimplementasikan pelajaran yang baik.
Pendekatan Sosio-Emosional
Pendekatan sosio-emosional akan terapai secara mksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembabng di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara guru dan siswa serta hubungan antar siswa. Di dalam ini guru merupakan kunci pengembangan hubungan tersebut.
Pendekatan Kerja Kelompok
Dalam pendekatan ini peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi kelas agar tetap baik.
Pendekatan iklim sosio-emosional
Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa pengelolaan kelas yang efektif memerlukan hubungan positif dengan antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa. Pendekatan iklim sosio-emosional akan tercapai secr maksimal apabila hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas.
Pendekatan Proses Kelompok
Dalam pendekatan ini, peran guru adalah mendorong perkembangan dan kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, selain itu guru juga harus dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
Menurut Richard A. Schmuk & Patricia A. Schmuck (dalam Y. Padmono, 2011) untuk mengelola kelas diperlukan adanya:
1. Pengharapan
Jika siswa merasa guru mengharapkan mereka berkelakuan buruk, sangat mungkin mereka akan berkelakuan buruk, sebaliknya jika siswa merasa guru mengharapkan mereka berkelakuan baik, memungkinkan pula siswa akan berkelakuan baik.
2. Kepemimpinan
guru memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi pemimpin di kelas yang menjadi tanggung jawabnya, akan tetapi kelas lebih efektif jika kepemimpinan dapat dijalankan oleh guru dan siswa. Guru meningkatkan mutu interaksi dan produktifitas kelompok dengan melatih siswa mengembangkan kemampuan kepemimpinan.
3. Daya tarik
mengacu pada persahabatan dalam kelompok kelas. Pengelolaan kelas efektif adalah pengelolaan yang membantu mengembangkan hubungan baik antara perorangan di antara anggota kelompok.
4. Norma-norma
norma sangat memengaruhi perseorangan karena memberikan petunjuk yang membantu anggota kelompok untuk memahami apa yang diharapkan orang lain. Guru hendaknya tidak mendominasi pembentukan norma kelompok, sebab norma bentukan guru cenderung memaksa siswa untuk menaatinya, sehingga ketaatan pada norma tersebut hanya bersifat untuk memenuhi tuntutan pihak lain.
5. Komunikasi
guru perlu mengembangkan kecakapan murid dalam berkomunikasi tertentu, mengoreksi kata-kata, dan memberi umpan balik.
6. Kesatuan
kelompok kelas akan efektif jika sebagian besar anggotanya termasuk guru sangat tertarik pada kelompok sebagai satu kesatuan. Guru dapat menciptakan kelompok kelas yang bersatu dengan membuat diskusi tentang penghargaan, dengan penyebaran kepemimpinan, mengembangkan persahabatan kelompok, dan sering menggunakan arus komunikasi dua arah.
Pendekatan Elektris atau Pluralistik
Pendekatan elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dua atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan, selama maksud dan penggunaannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.
Selain itu, ada pendekatan manajemen kelas yang efektif yaitu :
Fokus utama pendekatan ini terletak pada perilaku efektif guru dalam mengelola perilaku dan perbuatan siswa, khususnya berkaitan dengan:
Keterampilan-keterampilan guru dalam mengorganisasikan dan mengelola aktivitas kelas
Keterampilan-keterampilan guru dalam menyajikan material belajar
Hubungan guru-siswa
DAFTAR PUSTAKA
Mudasir.2011. manajemen kelas. Pekanbaru: zanafa publishing. Hlm 29-30 cetakan ke-1
Abdurrahman. (1994). Pengelolaan Pengajaran. Ujungpandang: Bintang Selatan.
Arikunto, S. (1989). Managemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta
Padmono, Y. (2011). Manajemen Kelas. Salatiga: Widyasari.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
Satori, D. (2008). Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Komponen-Komponen Keterampilan Manajemen
OLEH:
Diki Wahyudi. S
1620234
DOSEN PENGAMPU : Yessi Rifmasri, M.Pd
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ( PGSD )
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) ADZKIA
2018/2019
Pengertian komponen keterampilan Manajemen Kelas
Pada dasarnya, terdapat banyak sekali komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam memanajemen kelasnya. Akan tetapi untuk mempermudah pemahaman kita, maka komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas itu dapat digolongkan ke dalam 2 kelompok besar. Kedua kelompok besar komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas itu adalah:
Keterampilan yang berkaitan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal
Keterampilan yang berkaitan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Macam-Macam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Komponen-komponen keterampilan manajemen / pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif ) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal terdiri dari keterampilan sikap tanggap, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Keterampilan suka tanggap ini dapat dilakukan dengan cara; memandangan secara seksama, gerak mendekati, memberi pertanyaaan , dan reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan. Yang termasuk kedalam ketakacuan. Yang termasuk kedalam keterampilan memberi perhatian adalah visual dan verbal. Tetapi memberi tanda, penghentian jawab, pengarahan dan petunjuk yang jelas, penghentian, penguatan, kelancaran, dan kecepatan, merupakan sub bagian dari keterampilan pemusatan perhatian kelompok.
Masalah modifikasi tingkah laku, pendekatan pemecahan masalah kelompok, dan menemukan serta memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah, adalah tiga buah strategi yang termasuk kedalam ruang lingkup keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Semua kegiatan yang disebutkan diatas akan diperjelas dan diperdalam via uraian berikut ini.
a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prevetif).
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:
1. Sikap tanggap
Seorang guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik walaupun guru sedang menulis di papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
Memandang secara seksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa persahabatan.
Gerak mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan dan hukuman.
Memberi pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah dihindari hal-hal yang menunjukan dominasi guru, misalnya dengan komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”. “saya atau kalian yang keluar?” atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran saya, silakan keluar!”.
Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.
2. Membagi perhatian
Kelas diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru. perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama agar pengelolaan kelas menjadi efektif.
Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara:
Visual
Guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik secara individual.
Verbal
Guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik yang lain.
3. Pemusataan perhatian kelompok
Munculnya kelompok informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan. Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan mempertahankan perhatian anak didik dan memberitahukan (dapat dengan tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau subkelompok yang terdiri dari tiga sampai empat orang. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat guru lakukan, yaitu:
Ø Memberi tanda
Dalam memulai proses belajar mengajar guru memusatkan pada perhatian kelompok terhadap suatu tugas dengan memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan atau topik dengan memilih anak didik secara random untuk meresponnya.
Ø Pertanggungan jawab
Guru meminta pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan keterlibatannya dalam suatu kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggung jawab terhadapkegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalny, dengan meminta kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.
Ø Pengarahan dan petunjuk yang jelas
Guru harus sering kali memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri anak didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.
Ø Penghentian
Tidak semua gangguan tingkah laku dapat dicegah atau berhasil dihindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktiv dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau menghentikan gangguan anak didik itu.
Cara lain untuk menghentikan gangguan, adalah guru dan anak didik membuat persetujuan mengenai prosedur dan aturan yang merupakan bagian dari pelaksanaan rutin proses belajar mengajar, sehingga menghentikan gangguan berubah menjadi hanya memperingatkan. Cara mengomeli kurang dibenarkan dalam pendidikan, sebab tidak mendidik.
Ø Penguatan
Untuk menanggulangi anak didik yang mengganggu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang dipilih sesuai dengan masalahnya. Penggunaan penguatan untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau yang tidak melakukan tugas.
Ø Kelancaran (smoothnees)
Kelancaran atau kemajuan anak didikdalam belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Hal ini perlu guru dukung dan jangan diganggu dengan hal-hal yang bisa membuyarkan konsentrasi anak didik. Ada sejumlah kesalahan yang harus guru hindari, yaitu: campur tangan yang berlebihan (teacher Instruction), kelenyapan (Fade away), penyimpangan (Digression), dan ketidaktepatan berhenti dan memulai kegiatan.
Ø Kecepatan (Pacing)
Kecepatan disini diartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan penyajian bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau kemajuan tugas. Ada dua kesalahan kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan, yaitu: Bertele-tele (overdwelling) dan mengulangi penjelasan yang tidak perlu.
4. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan diatas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah memaparkan setiap pelaksanaan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
5. Menegur
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya .
6. Memberi penguatan
Penguatan adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dan dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau dapat ditularkan kesiswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersifat nonmaterial juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan .
b. Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan kondisi belajara yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang –ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas. Strategi itu adalah:
1. Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang penilaian yang kurang baik. Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
2. Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan , gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus dikelola dengan baik oleh guru. Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:
Ø Memperlancar tugas-tugas: Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
Ø Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok: Memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang timbul.
3. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi oleh dampak pengiring yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat dapat melakukan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus datang mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.
Permasalahan dalam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan/permasalahan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai berikut.
Campur tangan yang berlebih (teachers instruction)
Apabila guru menyela kegiatan yang sedang asyik berlangsung dengan komentar, pertanyaan, atau petunjuk yang mendadak, kegiatan itu akan terganggu atau terputus. Hal ini akan memberi kesan kepada siswa bahwa guru tidak memperhatikan keterlibatan dan kebutuhan anak. Ia hanya ingin memuaskan kehendak sendiri.
Kelenyapan (fade away)
Hal ini terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu instruksi, penjelasan, petunjuk, atau komentar, dan kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alasan yang jelas. Juga dapat terjadi dalam bentuk waktu diam yang terlalu lama, kehilangan akal, atau melupakan langkah-langkah dalam pelajaran. Akibatnya ialah membiarkan pikiran siswa mengawang-awang, melantur, dan mengganggu keefektifan serta kelancaran pelajaran.
Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stops and stars)
Hal ini dapat terjadi bila guru memulai suatu aktivitas tanpa mengetahui aktivitas sebelumnya menghentikan kegiatan pertama, memulai yang kedua, kemudian kembali kepada kegiatan yang pertama lagi. Dengan demikian guru tidak dapat mengendalikan situasi kelas dan akhirnya mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.
Penyimpangan (digression)
Akibat guru terlalu asyik dalam suatu kegiatan atau bahkan tertentu memungkinkan ia dapat menyimpang. Penyimpangan tersebut dapat mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.
Bertele-tele (overdweiling)
Kesalahan ini terjadi bila pembicaraan guru bersifat mengulang-ulang hal-hal tertentu, memperpanjang keterangan atau penjelasan, mengubah teguran sederhana menjadi ocehan atau kupasan yang panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Bahri Djamara, Syaiful dan Zain, Aswan. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rineka Cipta 2006). Cet. Ke-6
Rukmana, Ade dan Suryana, Asep. Pengelolaan Kelas. (Bandung: Upi Press 2006). Cet. Ke-1
Asril, Zainal. 2010. Microteaching. Padang. PT. Raja Grafindo Persada.
RESUME
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Prinsip Belajar Mengajar dan Keterampilan Dalam Mengajar
Di Susun Oleh :
Diki Wahyudi . S
:
1620234
Dosen Pembimbing:
Yessi Rifmasari, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2019
BELAJAR DAN MENGAJAR
a. Belajar
Belajar adalah tindakan mendapatkan pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dengan memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan tugas apa pun dengan mensintesis berbagai jenis informasi yang dirasakan oleh kami.Belajar membawa perubahan dalam perilaku individu yang ada.
Belajar menurut beberapa ahli ialah:
Belajar adalah proses dimana perilaku (dalam pengertian asrama) berasal atau berubah melalui latihan atau pelatihan. (Kingsley dan Garry)
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam potensi perilaku yang terjadi sebagai hasil dari latihan yang diperkuat. (kimble)
Belajar adalah perolehan dari perilaku baru atau penguatan atau melemahnya perilaku lama sebagai hasil dari pengalaman. (Henry P Smith)
Belajar didefinisikan sebagai perolehan kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Ini melibatkan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, dan itu beroperasi dalam upaya individu untuk mengatasi hambatan atau menyesuaikan diri dengan situasi baru. Ini mewakili perubahan progresif dalam perilaku. Itu memungkinkan dia memuaskan minat untuk mencapai tujuan.
Menurut Cronbach, Harold Spears, dan Geoch (dalam Sardiman AM, 2005:20) memberikan pengertian tentang belajar sebagai berikut :
Cronbach memberikan definisi “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
Harold Spears memberikan batasan”Learning is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to listen, to follow direction”. Belajar adalah mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan.
Geoch, mengatakan “Learning is a change in performance as a result of practice”. Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.
Dari beberapa definisi tentang belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Process (dalam Muhibbin Syah, 2003: 64) yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian) tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, belajar adalah ...a process of progressive behaviour adaptation.
b. Mengajar
Istilah belajar dan mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda, akan tetapi antara keduanya terdapat suatu hubungan yang erat sekali. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi satu sama lain. Antara kedua kegiatan itu saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain. Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Menurut Oemar Hamalik, mengajar memiliki beberapa definisi penting, diantaranya :
Mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah.
Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
Mengajar adalah usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.
Mengajar atau mendidik itu adalah memberikan bimbingan belajar kepada murid.
Mengajar adalah kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Mengajar adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, “ Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa guna membantu siswa menghadapi masalah yang terdapat pada kehidupan sehari-hari
PRINSIP BELAJAR DAN MENGAJAR
Prinsip Belaja
Menurut Keller (dalam Prasetya, 1997):
Attention : perhatian muncul karena didorong oleh rasa ingin tahu.
Relevansi : hubungan materi dengan kebutuhan dan kondisi siswa.
Confidence/percaya diri : mendorong dan memotivasi.
Satisfaction/ kepuasan : keberhasilan,kepuasan, memotivasi untuk melakukan kembali.
Prinsip Mengajar
Stimulation : suatu upaya yang melahirkan atau menyebabkan lahirmya motivasi pada diri siswa untuk mempelajari sesuatu yang baru, yakni dengan menciptakan sesuatu yang penting untuk dipelajari.
Guidance ( bimbingan ) : membantu siswa untuk mengembangakan kemampuannya, keterampilan, sikap dan pengetahuan sampai tingkat maksimum bagi penyesuaian yang tepat dengan lingkunganya serta mendorong siswa untuk memiliki keberanian dan antusiasme dalam mencapai belajar secara maksimum.
Direction ( mengarahkan ) : mengajar bukanlah sesuatu yang sembarangan tetapi mengajar adalah suatu kegiatan yang bertujuan, yang mengarah pada perilaku yang sudah ditetapkan.
Encouragement of learning ( memiliki keberanian dalam mengajar) : membantu siswa dalam berbagai tindakan yang sesuai dengan apa yang diarahkan oleh guru pada tingkat, prinsip, dan professional tertentu.
KETERAMPILAN - KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan Mengajar Seorang Guru
Tidak bisa berhasil jika dia tidak bisa menyampaikan ilmunya kepada murid-muridnya tidak peduli seberapa kompeten dia dalam materi pelajaran. Oleh karena itu, guru perlu memiliki keterampilan mengajar (Erden, 2007; Tezcan, 1996)). Guru mengendalikan proses belajar dan mengajar dengan cara merencanakan dan melaksanakan pelajaran, mengevaluasi siswa, menjaga ketertiban di kelas dan memastikan bahwa siswa mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat bermanfaat bagi mereka untuk mencapai tujuan pelajaran (un Acokgoz , 2004).
Guru, yang memungkinkan interaksi di antara unsur-unsur utama sistem pendidikan seperti siswa, program pendidikan, guru dan lingkungan (Posner, 1995) dan yang mengambil tugas mendidik individu muda yang dibutuhkan masyarakat, memiliki tempat khusus dan kepentingan dalam ruang lingkup elemen-elemen utama ini. Profesi mengajar mulai berkembang dengan munculnya pendidikan sebagai bidang profesi dan panggilan. Sudah lama diperdebatkan apakah mengajar itu profesi atau bukan. Pada akhirnya, disepakati bahwa mengajar adalah profesi yang berbeda dan bahwa ia memiliki semua kualitas yang harus dimiliki oleh suatu profesi (Tezcan, 1996).
Karakteristik Pengajaran Yang Baik
Sulit untuk mengatakan apa itu pengajaran yang baik, karena dapat mengambil banyak bentuk. Untuk mengilustrasikan argumen ini, itu yang diharapkan bahwa ceramah memberikan kesempatan untuk menunjukkan perilaku mengajar yang berbeda kepada mereka yang mungkin terlihat dalam tutorial, lokakarya, laboratorium, atau online. Demikian pula halnya dengan kardinalitas hubungan guru dengan siswa memungkinkan berbagai bentuk komunikasi dan teknik pengajaran yang akan diterapkan untuk membantu belajar untuk efek yang berbeda. Juga, di mana kegiatan belajar mengajar yang saling melengkapi (misalnya guru membrikan informasi kepada siswa tentang praktik laboratorium) fokus pada berbagai aspek pembelajaran atau berbagai langkah dalam proses pembelajaran, mungkin ada perbedaan yang diperlukan dalam perilaku mengajar yang bisa diamati dalam pengaturan yang berbeda.
Nulty (2001) menunjukkan: Karakteristik pengajaran yang baik tidak berubah; apa perubahan adalah cara-cara di mana masing-masing guru mewujudkan karakteristik itu. Boyer (1990) menggambarkan mengajar sebagai:
Usaha dinamis yang melibatkan semua analogi, metafora, dan gambar itu
membangun jembatan antara pemahaman guru dan pembelajaran siswa.
Dan selanjutnya mengamati bahwa:
a. Guru yang hebat menciptakan landasan bersama dalam komitmen intelektual.
b. Mereka merangsang pembelajaran aktif, tidak pasif dan mendorong siswa untuk bersikap kritis, pemikir kreatif, dengan kapasitas untuk terus belajar.
Untuk mencapai tujuan ini, Boyer menganjurkan pendekatan ilmiah untuk kebaikan mengajar sedemikian rupa sehingga guru juga harus menjadi pembelajar, dan dengan demikian pengembang, dari mereka mengajar seni.
Satu hal kontekstual lainnya juga perlu diperhatikan: ada dua istilah yang sering digunakan ketika membahas kualitas pengajaran, dan mereka adalah: pengajaran yang baik dan efektifmengajar . Bagi kami, pengajaran yang baik lebih berkaitan dengan kualitas gurulakukan dalam persiapan, pelaksanaan dan analisis praktik mereka sendiri. Banyak mengajar instrumen pengamatan memiliki fokus pada guru, tetapi ini hanya bagian dari gambar dalam sistem pembelajaran di kelas.
Mengetahui Dan Mengembang Kerangka Kerja Untuk Pengamatan Sesama Mengajar
Merupakan tentang membangun jembatan antara pemahaman guru dan siswa belajar, maka perlu juga ada konsentrasi pada seberapa baik guru melibatkan siswa dalam proses, objek, dan keterkaitan belajar. Istilah pengajaran yang efektif berkonotasi dengan fokus yang lebih besar ini pada efek yang dimiliki kegiatan belajar mengajar pada siswa. walaupun sastra menggunakan istilah-istilah tersebut secara bergantian, dari titik ini dalam bab ini kami berikan preferensi untuk istilah pengajaran yang efektif karena ini menghitung ulang seperangkat perilaku oleh guru yang mencakup tidak hanya apa yang dilakukan guru, tetapi juga apa siswa melakukannya (Shuell, 1986), dan itu, seperti yang ditekankan oleh Biggs (2003b), adalah akhirnya lebih penting.
Karakteristik Pengajaran yang Efektif
Masih ada literatur menyediakan banyak akun yang menggambarkan karakteristik pengajaran yang efektif (contohnya meliputi: Biggs, 2003b; Chickering & Gamson, 1987; Nulty, 2001; Ramsden, 1992; Young & Shaw, 1999). Di mana kita mulai dalam bab ini adalah dengan delapan karakteristik pengajaran yang efektif yang awalnya disajikan sebagai "dimensi pengajaran yang baik ”(Nulty, 2001).
Nulty (2001) (ia memanggil mereka dimensi) diikuti dengan pertimbangan sumber literatur lebih lanjut yang mendukung masing-masing, dan perbaikan yang dilakukan untuk masing-masing.
Dimensi 1 - Apakah Guru dengan Jelas Menyampaikan Tujuan Pembelajaran danTujuan?
Kejelasan maksud dan tujuan berguna dari sudut pandang guru, karena itu erarti bahwa tindakan mengajar dapat dilakukan dengan tujuan, sengaja dan terencana. Saya berarti bahwa guru diberdayakan melalui agen aktif.
Pada akhirnya, pengajaran yang efektif haruslah siswa terpusat karena jika mengajar dianggap sebagai 'efektif' maka itu harus mendukung peserta didik ' belajar. Ada dasar sastra yang kuat untuk mendukung karakteristik pengajaran yang efektif ini. Misalnya, standar pertama Glassick (2000) untuk beasiswa sebagaimana diterapkan pada pengajaran adalah ketentuan tujuan yang jelas yang: memberikan tujuan dasar untuk suatu kelas; menetapkan Tujuan Pembelajaran; realistis dan dapat dicapai; dan mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan penting di bidang yang dibahas oleh pelajaran. Demikian juga, prinsip keempat Ramsden (1992) dari pengajaran yang efektif mempromosikan penyediaan tujuan yang jelas dan tantangan intelektual, menyarankan bahwa tujuan pembelajaran harus dengan jelas memperpanjang arus siswa pemahaman dan kemampuan.
Tujuan pembelajaran yang jelas pada awal setiap kelas memastikan bahwa siswa menyadari harapan belajar, persyaratan untuk penilaian, dan memanfaatkan pendekatan strategis untuk pembelajaran (Entwistle, 2001) yang banyak dilakukan siswa mengadopsi dalam pendidikan tinggi.
Dimensi 2 - Apakah Guru Menunjukkan Pengetahuan Konten Lanjutan dan Keterampilan Pedagogis?
Karakteristik pengajaran yang efektif ini memiliki dua perbedaan dan sama pentingnya aspek: pengetahuan konten disiplin, dan keterampilan pedagogis. Pengetahuan konten dan pedagogi yang efektif terkait erat. Istilah "konten pedagogis pengetahuan ”pertama kali dijelaskan oleh Shulman (1986) sebagai [Melampaui] pengetahuan tentang materi pelajaran per se ke dimensi subjek pengetahuan materi untuk mengajar.
Dimensi 3 - Apakah Guru Menunjukkan Karakteristik Pribadi yang Cocok?
Penting untuk dicatat bahwa dimensi ini harus difokuskan pada kepribadian tertentu
ciri-ciri dan bukan penilaian umum tentang kepribadian guru. Itu juga penting untuk memastikan bahwa dimensi ini tidak dapat diartikan sebagai peluang untuk karakter pembunuhan. Sementara ini mungkin hanya masalah kesopanan sederhana di Barat dunia, dalam beberapa budaya Asia ada implikasi serius bagi pribadi atau keluarga kehormatan dan martabat jika umpan balik menghasilkan persyaratan bagi seorang guru untuk menyelamatkan muka (Leung & Cohen, 2011).
Dimensi 4 - Apakah Guru Memperlihatkan Kepedulian kepada Siswa dan Mereka Belajar?
Karakteristik ini secara terang-terangan mengangkat fokus dari guru dan kepribadian mereka ciri-ciri, untuk memenuhi kebutuhan siswa - yang menunjukkan siswa yang berpusat pada siswa pendekatan untuk mengajar. Prinsip kedua Ramsden (1992) untuk pengajaran yang efektif berkaitan dengan kepedulian dan rasa hormat kepada siswa dan melibatkan kemurahan hati seorang guru orang, kebajikan, kerendahan hati, minat yang jelas dalam mengajar, dan ketersediaannya kepada siswa untuk bantuan
Dimensi 5 - Apakah Guru Terlibat dan Berkomitmen pada Penggunaan Formatif Prosedur Penilaian?
Prinsip kunci keenam Ramsden (1992) untuk pengajaran yang efektif di pendidikan tinggi adalah bahwa guru universitas harus belajar dari siswa mereka dengan menilai secara terus menerus efek pengajaran mereka pada pembelajaran siswa danmemodifikasi pendekatan mereka berdasarkan pada bukti itu. Dalam penggambaran ini, penilaian formatif adalah tentang mencari tahu apa siswa memahami dan kemudian, jika perlu, memberikan umpan balik perkembangan atau menyusun kegiatan yang sesuai untuk memperbarui pemahaman itu. Kunci ketiga Ramsden Prinsipnya menyangkut penyediaan penilaian dan umpan balik yang tepat untuk siswa.
Dimensi 6 - Apakah Guru Fokus pada Mendorong Hasil Pembelajaran yang Mendalam?
Hasil belajar yang mendalam adalah yang secara kolektif terdiri dari pemahaman, dan kemampuan untuk menerapkan pemahaman itu, bukan hanya menghafal (Marton & Saljo, 1976). Hasil pembelajaran yang mendalam kemudian dianggap sebagai hasil belajar berkualitas tinggi. Mencapai hasil seperti itu terjadi sebagai hasil dari mengadopsi pendekatan yang mendalam belajar (Biggs, 1987; Entwistle, McCune, & Walker, 2001; Marton & Saljo, 1984), dan menghasilkan ini adalah bagian dari peran guru yang efektif. Dapat dikatakan bahwa tidak setiap kegiatan belajar mengajar dimaksudkan untuk itu menimbulkan hasil belajar tingkat tinggi.
Dimensi 7 - Apakah Guru Menunjukkan Desain Kurikulum yang Efektif?
Kurikulum dapat dianggap secara luas sebagai silabus atau program studi yang ada terdiri dari empat elemen penting yang terhubung: konten; mengajar dan belajar strategi; proses penilaian; dan proses evaluasi (Prideaux, 2003). Juga meliputi struktur dan urutan (Kember & Wong, 2000) kegiatan dan item penilaian - dalam satu pelajaran atau kelas; melintasi kursus atau unit saat dibuka; dan selaras dengan kurikulum kursus terkait dalam suatu program atau gelar.
Dimensi 8 - Apakah Guru Menunjukkan Komitmen Meningkatkan MerekaPengajaran?
Karakteristik ini berbicara dengan pendekatan ilmiah seorang guru untuk pengajaran dan sampai batas tertentu, beasiswa mengajar. Pendekatan ilmiah untuk mengajar adalah tentang menjadi praktisi reflektif (Biggs, 2001; Boud, 1999; Kane, Sandretto, & Heath, 2004; Leitch & Day, 2000; Schön, 1983) dan tentang terlibat dengan ilmiah literatur untuk menginformasikan praktik mengajar (Shulman, 1986, 1987). Beasiswa mengajar dibangun berdasarkan pendekatan ilmiah dengan mempublikasikan praktik dan membukanya ulasan sejawat dan kritik terhadap standar yang diterima (Hutchings & Shulman, 1999).Keterampilanmengajar adalah kecakapan atau kemampuan pengajar dalam menjelaskan konsep terkait dengan materi pembelajaran. Dengan demikian seorang pengajar harus mempunyai persiapan mengajar, antara lain harus menguasai bahan pembelajaran mampu memilih strategi, metode dan media, penguasaan kelas yang baik, serta menentukan system penilaian yang tepat.
1. Keterampilan Bertanya
2. Keterampilan Memberi Penguatan
3. Keterampilan Menggunakan Variasi
4. Keterampilan Menjelaskan
5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
6. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
7. Keterampilan Mengelola Kelas
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
TUJUAN KETERAMPILAN MENGAJAR
Supaya guru atau tenaga pendidik dapat memahami hakikat keterampilan dasar mengajar yang dapat dipraktikan didalam kelas
Untuk membekali tenaga pendidik beberapa keterapilan dasar mengajar dan pembelajara.
MACAM – MACAM KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban siswa. Brown menyatakan bahwa bertanya adalah setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri siswa.
Komponen keterampilan bertanya yang perlu dikuasi guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.
Komponen keterampilan bertanya dasar mencakup:
Penggunaan pertanyaan yang jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan sesuai taraf perkembangannya.
Pemberian acuan, berupa pernyataan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.
Pemindahan giliran dan menyebar pertanyaan, untuk melibatkan seluruh siswa semaksimal mungkin agar tercipta iklim pembelajaran yang menyenangkan.
Pemberian waktu berpikir pada siswa.
Pemberian tuntunan, guru hendaknya memberikan tuntunan agar murid dapat menjawab sendiri ketika terdapat kesalahan dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh guru.
Sedangkan komponen keterampilan bertanya tingkat lanjut yang perlu diperhatikan adalah:
Pengubahan tuntunan tingkat kognitif, guru hendaknya dapat mengubah tuntunan tingkat kognitif siswa dalam menjawab pertanyaan dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat yang lebih tinggi, yaitu: evaluasi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis.
Pengaturan urutan pertanyaan, pertanyaan yang diajukan hendaknya mulai dari sederhana menuju yang paling kompleks secara berurutan.
Pertanyaan pelacak, diberikan jika jawaban yang diberikan peserta didik kurang tepat.
Mendorong terjadinya interaksi, untuk mendorong terjadinya interaksi, sedikitnya perlu memperhatikan dua hal berikut: pertanyaan hendaknya dijawab oleh seorang peserta didik tetapi seluruh peserta didik diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman dekatnya dan guru hendaknya menjadi dinding pemantul
2. Keterampilan Memberikan Penguatan
Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.Respon positif yang dilakukan guru atas perilaku positif yang dicapai anak dalam proses pembelajaran disebut juga dengan penguatan.
Penguatan atau reinforcement adalah segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpanbalik (feedback) bagi siswa atas perbuatan atau responnya yang diberiakan sebagai suatu dorongan atau koreksi.
Ada dua jenis komponen penguatan yang bisa diberikan oleh guru, yaitu:
Penguatan Verbal.
Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata, baik kata-kata pujian, dukungan, dan penghargaan atau kata-kata koreksi.39Melalui kata-kata itu siswa akan merasa tersanjung dan berbesar hati sehingga ia akan merasa puas dan terdorong untuk lebih aktif belajar. Misalnya: pintar sekali, bagus, betul, tepat sekali, dan lain-lain.
Penguatan Nonverbal.
Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat.Contoh dari penguatan nonverbal yaitu:
Penguatan gerak isyarat atau gerakan mimik dan badan (gestural). Dalam hal ini guru dapat mengembangkan sendiri bentuk-bentuknya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku sehingga dapat memperbaikiinteraksi guru dan siswa.
Penguatan pendekatan, misalnya: guru duduk didekat siswa, berdiri disamping siswa, atau berjalan di sisi siswa. Penguatan ini berfungsi menambah penguatan verbal.
Penguatan dengan sentuhan (contact), guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan cara menepuk-nepuk pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.
Penguatan dengan kegiatan menyenangkan.
Penguatan berupa simbol-simbol dan benda, misalnya: kartu bergambar, bintang , dan lain-lain.
Keterampilan Menggunakan Variasi
Menggunakan variasi diartikan sebagai aktivitas guru dalam konteks proses pembelajaran yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar siswa selalu menunjukkan ketekunan, perhatian, keantusiasan, motivasi yang tinggi dan kesediaan berperan secara aktif.Variasi mengajar adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para siswa serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan.
Keterampilan Menjelaskan
Menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menuntut guru untuk memberikan penjelasan.
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai dan dilatih oleh para guru agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif, efisien, dan menarik. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam membuka dan menutup pelajaran mulai dari awal hingga akhir pelajaran.
Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah.
Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya, apabila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.Suatu kondisi yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Dharmaraj, Dr.William. 2015. LEARNING AND TEACHING B.Ed. I YEAR.
Departement of Education Manonmaniam Sundaranar University,
Tirunelveli
Crawford, Alan. 2015. TEACHING AND LEARNING STRATEGIES FOR
THE THINKING CLASSROOM. The International Debate Educaation Association
Boyer, E. L. (1990). Scholarship reconsidered: Priorities of the professoriate. Menlo Park, CA: Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching
Entwistle, N. (2001). Styles of learning and approaches to studying in higher education. Kybernetes, 30(5/6), 593–603
SUMBER E-BOOK
https://www.sensepublishers.com/media/2489-teaching-for-learning-and-learning-for-teaching.pdf
https://translate.google.com/translate?hl=id&sl=en&u=https://www.sensepublishers.com/media/2489-teaching-for-learning-and-learning-for-teaching.pdf&prev=search
https://www.researchgate.net/publication/248607615_The_teaching_profession_knowledge_of_subject_matter_teaching_skills_and_personality_traits
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Prinsip Belajar Mengajar dan Keterampilan Dalam Mengajar
Di Susun Oleh :
Diki Wahyudi . S
:
1620234
Dosen Pembimbing:
Yessi Rifmasari, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2019
BELAJAR DAN MENGAJAR
a. Belajar
Belajar adalah tindakan mendapatkan pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dengan memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan tugas apa pun dengan mensintesis berbagai jenis informasi yang dirasakan oleh kami.Belajar membawa perubahan dalam perilaku individu yang ada.
Belajar menurut beberapa ahli ialah:
Belajar adalah proses dimana perilaku (dalam pengertian asrama) berasal atau berubah melalui latihan atau pelatihan. (Kingsley dan Garry)
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam potensi perilaku yang terjadi sebagai hasil dari latihan yang diperkuat. (kimble)
Belajar adalah perolehan dari perilaku baru atau penguatan atau melemahnya perilaku lama sebagai hasil dari pengalaman. (Henry P Smith)
Belajar didefinisikan sebagai perolehan kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Ini melibatkan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, dan itu beroperasi dalam upaya individu untuk mengatasi hambatan atau menyesuaikan diri dengan situasi baru. Ini mewakili perubahan progresif dalam perilaku. Itu memungkinkan dia memuaskan minat untuk mencapai tujuan.
Menurut Cronbach, Harold Spears, dan Geoch (dalam Sardiman AM, 2005:20) memberikan pengertian tentang belajar sebagai berikut :
Cronbach memberikan definisi “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
Harold Spears memberikan batasan”Learning is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to listen, to follow direction”. Belajar adalah mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan.
Geoch, mengatakan “Learning is a change in performance as a result of practice”. Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.
Dari beberapa definisi tentang belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Process (dalam Muhibbin Syah, 2003: 64) yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian) tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, belajar adalah ...a process of progressive behaviour adaptation.
b. Mengajar
Istilah belajar dan mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda, akan tetapi antara keduanya terdapat suatu hubungan yang erat sekali. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi satu sama lain. Antara kedua kegiatan itu saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain. Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Menurut Oemar Hamalik, mengajar memiliki beberapa definisi penting, diantaranya :
Mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah.
Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
Mengajar adalah usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.
Mengajar atau mendidik itu adalah memberikan bimbingan belajar kepada murid.
Mengajar adalah kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Mengajar adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, “ Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa guna membantu siswa menghadapi masalah yang terdapat pada kehidupan sehari-hari
PRINSIP BELAJAR DAN MENGAJAR
Prinsip Belaja
Menurut Keller (dalam Prasetya, 1997):
Attention : perhatian muncul karena didorong oleh rasa ingin tahu.
Relevansi : hubungan materi dengan kebutuhan dan kondisi siswa.
Confidence/percaya diri : mendorong dan memotivasi.
Satisfaction/ kepuasan : keberhasilan,kepuasan, memotivasi untuk melakukan kembali.
Prinsip Mengajar
Stimulation : suatu upaya yang melahirkan atau menyebabkan lahirmya motivasi pada diri siswa untuk mempelajari sesuatu yang baru, yakni dengan menciptakan sesuatu yang penting untuk dipelajari.
Guidance ( bimbingan ) : membantu siswa untuk mengembangakan kemampuannya, keterampilan, sikap dan pengetahuan sampai tingkat maksimum bagi penyesuaian yang tepat dengan lingkunganya serta mendorong siswa untuk memiliki keberanian dan antusiasme dalam mencapai belajar secara maksimum.
Direction ( mengarahkan ) : mengajar bukanlah sesuatu yang sembarangan tetapi mengajar adalah suatu kegiatan yang bertujuan, yang mengarah pada perilaku yang sudah ditetapkan.
Encouragement of learning ( memiliki keberanian dalam mengajar) : membantu siswa dalam berbagai tindakan yang sesuai dengan apa yang diarahkan oleh guru pada tingkat, prinsip, dan professional tertentu.
KETERAMPILAN - KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan Mengajar Seorang Guru
Tidak bisa berhasil jika dia tidak bisa menyampaikan ilmunya kepada murid-muridnya tidak peduli seberapa kompeten dia dalam materi pelajaran. Oleh karena itu, guru perlu memiliki keterampilan mengajar (Erden, 2007; Tezcan, 1996)). Guru mengendalikan proses belajar dan mengajar dengan cara merencanakan dan melaksanakan pelajaran, mengevaluasi siswa, menjaga ketertiban di kelas dan memastikan bahwa siswa mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat bermanfaat bagi mereka untuk mencapai tujuan pelajaran (un Acokgoz , 2004).
Guru, yang memungkinkan interaksi di antara unsur-unsur utama sistem pendidikan seperti siswa, program pendidikan, guru dan lingkungan (Posner, 1995) dan yang mengambil tugas mendidik individu muda yang dibutuhkan masyarakat, memiliki tempat khusus dan kepentingan dalam ruang lingkup elemen-elemen utama ini. Profesi mengajar mulai berkembang dengan munculnya pendidikan sebagai bidang profesi dan panggilan. Sudah lama diperdebatkan apakah mengajar itu profesi atau bukan. Pada akhirnya, disepakati bahwa mengajar adalah profesi yang berbeda dan bahwa ia memiliki semua kualitas yang harus dimiliki oleh suatu profesi (Tezcan, 1996).
Karakteristik Pengajaran Yang Baik
Sulit untuk mengatakan apa itu pengajaran yang baik, karena dapat mengambil banyak bentuk. Untuk mengilustrasikan argumen ini, itu yang diharapkan bahwa ceramah memberikan kesempatan untuk menunjukkan perilaku mengajar yang berbeda kepada mereka yang mungkin terlihat dalam tutorial, lokakarya, laboratorium, atau online. Demikian pula halnya dengan kardinalitas hubungan guru dengan siswa memungkinkan berbagai bentuk komunikasi dan teknik pengajaran yang akan diterapkan untuk membantu belajar untuk efek yang berbeda. Juga, di mana kegiatan belajar mengajar yang saling melengkapi (misalnya guru membrikan informasi kepada siswa tentang praktik laboratorium) fokus pada berbagai aspek pembelajaran atau berbagai langkah dalam proses pembelajaran, mungkin ada perbedaan yang diperlukan dalam perilaku mengajar yang bisa diamati dalam pengaturan yang berbeda.
Nulty (2001) menunjukkan: Karakteristik pengajaran yang baik tidak berubah; apa perubahan adalah cara-cara di mana masing-masing guru mewujudkan karakteristik itu. Boyer (1990) menggambarkan mengajar sebagai:
Usaha dinamis yang melibatkan semua analogi, metafora, dan gambar itu
membangun jembatan antara pemahaman guru dan pembelajaran siswa.
Dan selanjutnya mengamati bahwa:
a. Guru yang hebat menciptakan landasan bersama dalam komitmen intelektual.
b. Mereka merangsang pembelajaran aktif, tidak pasif dan mendorong siswa untuk bersikap kritis, pemikir kreatif, dengan kapasitas untuk terus belajar.
Untuk mencapai tujuan ini, Boyer menganjurkan pendekatan ilmiah untuk kebaikan mengajar sedemikian rupa sehingga guru juga harus menjadi pembelajar, dan dengan demikian pengembang, dari mereka mengajar seni.
Satu hal kontekstual lainnya juga perlu diperhatikan: ada dua istilah yang sering digunakan ketika membahas kualitas pengajaran, dan mereka adalah: pengajaran yang baik dan efektifmengajar . Bagi kami, pengajaran yang baik lebih berkaitan dengan kualitas gurulakukan dalam persiapan, pelaksanaan dan analisis praktik mereka sendiri. Banyak mengajar instrumen pengamatan memiliki fokus pada guru, tetapi ini hanya bagian dari gambar dalam sistem pembelajaran di kelas.
Mengetahui Dan Mengembang Kerangka Kerja Untuk Pengamatan Sesama Mengajar
Merupakan tentang membangun jembatan antara pemahaman guru dan siswa belajar, maka perlu juga ada konsentrasi pada seberapa baik guru melibatkan siswa dalam proses, objek, dan keterkaitan belajar. Istilah pengajaran yang efektif berkonotasi dengan fokus yang lebih besar ini pada efek yang dimiliki kegiatan belajar mengajar pada siswa. walaupun sastra menggunakan istilah-istilah tersebut secara bergantian, dari titik ini dalam bab ini kami berikan preferensi untuk istilah pengajaran yang efektif karena ini menghitung ulang seperangkat perilaku oleh guru yang mencakup tidak hanya apa yang dilakukan guru, tetapi juga apa siswa melakukannya (Shuell, 1986), dan itu, seperti yang ditekankan oleh Biggs (2003b), adalah akhirnya lebih penting.
Karakteristik Pengajaran yang Efektif
Masih ada literatur menyediakan banyak akun yang menggambarkan karakteristik pengajaran yang efektif (contohnya meliputi: Biggs, 2003b; Chickering & Gamson, 1987; Nulty, 2001; Ramsden, 1992; Young & Shaw, 1999). Di mana kita mulai dalam bab ini adalah dengan delapan karakteristik pengajaran yang efektif yang awalnya disajikan sebagai "dimensi pengajaran yang baik ”(Nulty, 2001).
Nulty (2001) (ia memanggil mereka dimensi) diikuti dengan pertimbangan sumber literatur lebih lanjut yang mendukung masing-masing, dan perbaikan yang dilakukan untuk masing-masing.
Dimensi 1 - Apakah Guru dengan Jelas Menyampaikan Tujuan Pembelajaran danTujuan?
Kejelasan maksud dan tujuan berguna dari sudut pandang guru, karena itu erarti bahwa tindakan mengajar dapat dilakukan dengan tujuan, sengaja dan terencana. Saya berarti bahwa guru diberdayakan melalui agen aktif.
Pada akhirnya, pengajaran yang efektif haruslah siswa terpusat karena jika mengajar dianggap sebagai 'efektif' maka itu harus mendukung peserta didik ' belajar. Ada dasar sastra yang kuat untuk mendukung karakteristik pengajaran yang efektif ini. Misalnya, standar pertama Glassick (2000) untuk beasiswa sebagaimana diterapkan pada pengajaran adalah ketentuan tujuan yang jelas yang: memberikan tujuan dasar untuk suatu kelas; menetapkan Tujuan Pembelajaran; realistis dan dapat dicapai; dan mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan penting di bidang yang dibahas oleh pelajaran. Demikian juga, prinsip keempat Ramsden (1992) dari pengajaran yang efektif mempromosikan penyediaan tujuan yang jelas dan tantangan intelektual, menyarankan bahwa tujuan pembelajaran harus dengan jelas memperpanjang arus siswa pemahaman dan kemampuan.
Tujuan pembelajaran yang jelas pada awal setiap kelas memastikan bahwa siswa menyadari harapan belajar, persyaratan untuk penilaian, dan memanfaatkan pendekatan strategis untuk pembelajaran (Entwistle, 2001) yang banyak dilakukan siswa mengadopsi dalam pendidikan tinggi.
Dimensi 2 - Apakah Guru Menunjukkan Pengetahuan Konten Lanjutan dan Keterampilan Pedagogis?
Karakteristik pengajaran yang efektif ini memiliki dua perbedaan dan sama pentingnya aspek: pengetahuan konten disiplin, dan keterampilan pedagogis. Pengetahuan konten dan pedagogi yang efektif terkait erat. Istilah "konten pedagogis pengetahuan ”pertama kali dijelaskan oleh Shulman (1986) sebagai [Melampaui] pengetahuan tentang materi pelajaran per se ke dimensi subjek pengetahuan materi untuk mengajar.
Dimensi 3 - Apakah Guru Menunjukkan Karakteristik Pribadi yang Cocok?
Penting untuk dicatat bahwa dimensi ini harus difokuskan pada kepribadian tertentu
ciri-ciri dan bukan penilaian umum tentang kepribadian guru. Itu juga penting untuk memastikan bahwa dimensi ini tidak dapat diartikan sebagai peluang untuk karakter pembunuhan. Sementara ini mungkin hanya masalah kesopanan sederhana di Barat dunia, dalam beberapa budaya Asia ada implikasi serius bagi pribadi atau keluarga kehormatan dan martabat jika umpan balik menghasilkan persyaratan bagi seorang guru untuk menyelamatkan muka (Leung & Cohen, 2011).
Dimensi 4 - Apakah Guru Memperlihatkan Kepedulian kepada Siswa dan Mereka Belajar?
Karakteristik ini secara terang-terangan mengangkat fokus dari guru dan kepribadian mereka ciri-ciri, untuk memenuhi kebutuhan siswa - yang menunjukkan siswa yang berpusat pada siswa pendekatan untuk mengajar. Prinsip kedua Ramsden (1992) untuk pengajaran yang efektif berkaitan dengan kepedulian dan rasa hormat kepada siswa dan melibatkan kemurahan hati seorang guru orang, kebajikan, kerendahan hati, minat yang jelas dalam mengajar, dan ketersediaannya kepada siswa untuk bantuan
Dimensi 5 - Apakah Guru Terlibat dan Berkomitmen pada Penggunaan Formatif Prosedur Penilaian?
Prinsip kunci keenam Ramsden (1992) untuk pengajaran yang efektif di pendidikan tinggi adalah bahwa guru universitas harus belajar dari siswa mereka dengan menilai secara terus menerus efek pengajaran mereka pada pembelajaran siswa danmemodifikasi pendekatan mereka berdasarkan pada bukti itu. Dalam penggambaran ini, penilaian formatif adalah tentang mencari tahu apa siswa memahami dan kemudian, jika perlu, memberikan umpan balik perkembangan atau menyusun kegiatan yang sesuai untuk memperbarui pemahaman itu. Kunci ketiga Ramsden Prinsipnya menyangkut penyediaan penilaian dan umpan balik yang tepat untuk siswa.
Dimensi 6 - Apakah Guru Fokus pada Mendorong Hasil Pembelajaran yang Mendalam?
Hasil belajar yang mendalam adalah yang secara kolektif terdiri dari pemahaman, dan kemampuan untuk menerapkan pemahaman itu, bukan hanya menghafal (Marton & Saljo, 1976). Hasil pembelajaran yang mendalam kemudian dianggap sebagai hasil belajar berkualitas tinggi. Mencapai hasil seperti itu terjadi sebagai hasil dari mengadopsi pendekatan yang mendalam belajar (Biggs, 1987; Entwistle, McCune, & Walker, 2001; Marton & Saljo, 1984), dan menghasilkan ini adalah bagian dari peran guru yang efektif. Dapat dikatakan bahwa tidak setiap kegiatan belajar mengajar dimaksudkan untuk itu menimbulkan hasil belajar tingkat tinggi.
Dimensi 7 - Apakah Guru Menunjukkan Desain Kurikulum yang Efektif?
Kurikulum dapat dianggap secara luas sebagai silabus atau program studi yang ada terdiri dari empat elemen penting yang terhubung: konten; mengajar dan belajar strategi; proses penilaian; dan proses evaluasi (Prideaux, 2003). Juga meliputi struktur dan urutan (Kember & Wong, 2000) kegiatan dan item penilaian - dalam satu pelajaran atau kelas; melintasi kursus atau unit saat dibuka; dan selaras dengan kurikulum kursus terkait dalam suatu program atau gelar.
Dimensi 8 - Apakah Guru Menunjukkan Komitmen Meningkatkan MerekaPengajaran?
Karakteristik ini berbicara dengan pendekatan ilmiah seorang guru untuk pengajaran dan sampai batas tertentu, beasiswa mengajar. Pendekatan ilmiah untuk mengajar adalah tentang menjadi praktisi reflektif (Biggs, 2001; Boud, 1999; Kane, Sandretto, & Heath, 2004; Leitch & Day, 2000; Schön, 1983) dan tentang terlibat dengan ilmiah literatur untuk menginformasikan praktik mengajar (Shulman, 1986, 1987). Beasiswa mengajar dibangun berdasarkan pendekatan ilmiah dengan mempublikasikan praktik dan membukanya ulasan sejawat dan kritik terhadap standar yang diterima (Hutchings & Shulman, 1999).Keterampilanmengajar adalah kecakapan atau kemampuan pengajar dalam menjelaskan konsep terkait dengan materi pembelajaran. Dengan demikian seorang pengajar harus mempunyai persiapan mengajar, antara lain harus menguasai bahan pembelajaran mampu memilih strategi, metode dan media, penguasaan kelas yang baik, serta menentukan system penilaian yang tepat.
1. Keterampilan Bertanya
2. Keterampilan Memberi Penguatan
3. Keterampilan Menggunakan Variasi
4. Keterampilan Menjelaskan
5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
6. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
7. Keterampilan Mengelola Kelas
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
TUJUAN KETERAMPILAN MENGAJAR
Supaya guru atau tenaga pendidik dapat memahami hakikat keterampilan dasar mengajar yang dapat dipraktikan didalam kelas
Untuk membekali tenaga pendidik beberapa keterapilan dasar mengajar dan pembelajara.
MACAM – MACAM KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban siswa. Brown menyatakan bahwa bertanya adalah setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri siswa.
Komponen keterampilan bertanya yang perlu dikuasi guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.
Komponen keterampilan bertanya dasar mencakup:
Penggunaan pertanyaan yang jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan sesuai taraf perkembangannya.
Pemberian acuan, berupa pernyataan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.
Pemindahan giliran dan menyebar pertanyaan, untuk melibatkan seluruh siswa semaksimal mungkin agar tercipta iklim pembelajaran yang menyenangkan.
Pemberian waktu berpikir pada siswa.
Pemberian tuntunan, guru hendaknya memberikan tuntunan agar murid dapat menjawab sendiri ketika terdapat kesalahan dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh guru.
Sedangkan komponen keterampilan bertanya tingkat lanjut yang perlu diperhatikan adalah:
Pengubahan tuntunan tingkat kognitif, guru hendaknya dapat mengubah tuntunan tingkat kognitif siswa dalam menjawab pertanyaan dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat yang lebih tinggi, yaitu: evaluasi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis.
Pengaturan urutan pertanyaan, pertanyaan yang diajukan hendaknya mulai dari sederhana menuju yang paling kompleks secara berurutan.
Pertanyaan pelacak, diberikan jika jawaban yang diberikan peserta didik kurang tepat.
Mendorong terjadinya interaksi, untuk mendorong terjadinya interaksi, sedikitnya perlu memperhatikan dua hal berikut: pertanyaan hendaknya dijawab oleh seorang peserta didik tetapi seluruh peserta didik diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman dekatnya dan guru hendaknya menjadi dinding pemantul
2. Keterampilan Memberikan Penguatan
Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.Respon positif yang dilakukan guru atas perilaku positif yang dicapai anak dalam proses pembelajaran disebut juga dengan penguatan.
Penguatan atau reinforcement adalah segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpanbalik (feedback) bagi siswa atas perbuatan atau responnya yang diberiakan sebagai suatu dorongan atau koreksi.
Ada dua jenis komponen penguatan yang bisa diberikan oleh guru, yaitu:
Penguatan Verbal.
Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata, baik kata-kata pujian, dukungan, dan penghargaan atau kata-kata koreksi.39Melalui kata-kata itu siswa akan merasa tersanjung dan berbesar hati sehingga ia akan merasa puas dan terdorong untuk lebih aktif belajar. Misalnya: pintar sekali, bagus, betul, tepat sekali, dan lain-lain.
Penguatan Nonverbal.
Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat.Contoh dari penguatan nonverbal yaitu:
Penguatan gerak isyarat atau gerakan mimik dan badan (gestural). Dalam hal ini guru dapat mengembangkan sendiri bentuk-bentuknya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku sehingga dapat memperbaikiinteraksi guru dan siswa.
Penguatan pendekatan, misalnya: guru duduk didekat siswa, berdiri disamping siswa, atau berjalan di sisi siswa. Penguatan ini berfungsi menambah penguatan verbal.
Penguatan dengan sentuhan (contact), guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan cara menepuk-nepuk pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.
Penguatan dengan kegiatan menyenangkan.
Penguatan berupa simbol-simbol dan benda, misalnya: kartu bergambar, bintang , dan lain-lain.
Keterampilan Menggunakan Variasi
Menggunakan variasi diartikan sebagai aktivitas guru dalam konteks proses pembelajaran yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar siswa selalu menunjukkan ketekunan, perhatian, keantusiasan, motivasi yang tinggi dan kesediaan berperan secara aktif.Variasi mengajar adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para siswa serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan.
Keterampilan Menjelaskan
Menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menuntut guru untuk memberikan penjelasan.
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai dan dilatih oleh para guru agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif, efisien, dan menarik. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam membuka dan menutup pelajaran mulai dari awal hingga akhir pelajaran.
Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah.
Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya, apabila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.Suatu kondisi yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Dharmaraj, Dr.William. 2015. LEARNING AND TEACHING B.Ed. I YEAR.
Departement of Education Manonmaniam Sundaranar University,
Tirunelveli
Crawford, Alan. 2015. TEACHING AND LEARNING STRATEGIES FOR
THE THINKING CLASSROOM. The International Debate Educaation Association
Boyer, E. L. (1990). Scholarship reconsidered: Priorities of the professoriate. Menlo Park, CA: Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching
Entwistle, N. (2001). Styles of learning and approaches to studying in higher education. Kybernetes, 30(5/6), 593–603
SUMBER E-BOOK
https://www.sensepublishers.com/media/2489-teaching-for-learning-and-learning-for-teaching.pdf
https://translate.google.com/translate?hl=id&sl=en&u=https://www.sensepublishers.com/media/2489-teaching-for-learning-and-learning-for-teaching.pdf&prev=search
https://www.researchgate.net/publication/248607615_The_teaching_profession_knowledge_of_subject_matter_teaching_skills_and_personality_traits
Langganan:
Postingan (Atom)