Rabu, 04 September 2019

MANAJEMEN KELAS DI SD

MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN DISIPLIN SEKOLAH





Disusun Oleh :
DIKI WAHYUDI.S
(1620234)


Dosen Pembimbing :
YESSI RIFMASARI, M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
STKIP ADZKIA PADANG
2019


MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN DISIPLIN SEKOLAH
1. Pengertian
Hubungan antara sekolah dan masyarakat pada hakekatnya adalah suatu sarana yang cukup mempunyai peranan yang menentukan dalam rangka usaha mengadakan pembinaan pertumbuhan dan pengembangan murid-murid di sekolah. Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak, pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah, adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Arthur B. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ada suatu kebutuhan yang sama antara keduanya, baik dilihat dari segi edukatif, maupun dilihat dari segi psikologi. Hubungan antar sekolah dan masyarakat lebih dibutuhkan dan lebih terasa fungsinya, karena adanya kecenderungan perubahan dalam pendidikan yang menekankan perkembangan pribadi dan sosial anak melalui pengalaman-pengalaman anak dibawah bimbingan guru, baik diluar maupun di dalam sekolah.
Ada tiga faktor yang menyebabkan sekolah harus berhubungan dengan masyarakat :
a.       Faktor perubahan sifat, tujuan dan metode mengajar di sekolah.
b.      Faktor masyarakat, yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di sekolah dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah.
c.       Faktor perkembangan ide demokrasi bagi masyarakat terhadap pendidikan.
Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sekolah. Di sisi lain pengertian
tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak menunggu adanya permintaan masyarakat, tetapi sekolah berusaha secara aktif serta mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis.
2. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Elsbree menggariskan tujuan tentang hubungan antara sekolah dan masyarakat adalah sebagai berikut:
a.       Untuk memajukan kualitas belajar dan pertumbuhan anak.
b.      Untuk memperkokoh tujuan dan memajukan kualitas penghidupan masyarakat.
c.       Untuk mendorong masyarakat dalam membantu progam bantuan sekolah dan masyarakat di sekolah.
Di dalam masyarakat ada sumberdaya manusia dan sumber daya non manusia. Dari kedua sumber daya itu, sekolah dapat memilih dan memanfaatkan untuk program pendidikan sekolah. Jika sekolah itu berhasil memanfaatkan secara maksimal, maka hasil belajar anak akan lebih baik. Dengan demikian potensi anak akan bertumbuh dan berkembang secara maksimal. Pengaruh yang lebih jauh dari perkembangan anak tersebut adalah tujuan pendidikan sekolah akan tercapai dengan meyakinkan. Hal ini berarti bahwa tamatan (output) sekolah secara langsung akan ikut serta dalam memajukan penghidupan dan kehidupan masyarakat.
Karena itu hubungan timbal balik antara sekolah dengan masyarakat perlu dipelihara dan dikembangkan secara terus menerus.
3. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran, baik dalam arti sasaran masyarakat atau orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan, maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut:
3.1. Integrity
Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu, dalam arti apa yang dijelaskan, disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik.
Biasanya sering terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. Oleh sebab itu sekolah harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan adanya salah persepsi, salah interpretasi tentang informasi yang disajikan dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap, sehingga dapat diterima secara rasional oleh masyarakat. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat atau orang tua murid terhadap sekolah, atau dengan kata lain transparansi sekolah sangat diperlukan, lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini, masyarakat akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang sekolah.
3.2. Continuity
Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat, harus dilakukan secara terus menerus. Jadi pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak hanya dilakukan secara insedental atau sewaktu-waktu, misalnya satu kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester, hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua atau masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat selalu beranggapan apabila ada panggilan sekolah untuk datang ke sekolah selalu dikaitkan dengan uang. Akibatnya mereka cenderung untuk tidak menghadiri atau sekedar mewakilkan kepada orang lain untuk menghadiri undangan sekolah. Apabila ini terkondisi, maka sekolah akan sulit mendapat dukungan yang kuat dari semua orang tua murid dan masyarakat.
Perkembangan informasi, perkembangan kemajuan sekolah, permasalahan-permasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu muncul dan berkembang setiap saat, karena itu maka diperlukan penjelasan informasi yang terus menerus dari sekolah untuk masyarakat atau orang tua murid, sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan putra-putrinya.
3.3. Simplicity
Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok  pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun  melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar (masyarakat setempat).
Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung makna bahwa: informasi yang disajikan dinyatakan dengan kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti. Banyak masyarakat yang tidak memahami istilah-istilah
yang sangat ilmiah, oleh sebab itu penggunaan istilah sedapat mungkin disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat.
3.4. Coverage
Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek, faktor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat, misalnya program ekstra kurikuler, kegiatan kurikuler, remedial teaching dan lain-lain kegiatan. Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya:
a.       Lengkap, artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan,  padahal masyarakat atau orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan sekolah dimana anaknya belajar. Oleh sebab itu informasi kemajuan sekolah, masalah yang dihadapi sekolah serta prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat.
b.      Akurat, artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi yang diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif.
c.        Up to date, berarti informasi yang diberikan adalah informasi perkembangan, kemajuan, masalah dan prestasi sekolah terakhir.
Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat mencapai misi dan visi yang disusunnya.

3.5. Constructiveness
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif  dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif  kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah  serta mengerti dan memahami secara detail berbagai masalah yang dihadapi sekolah. Apabila hal tersebut dapat mereka mengerti, akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Hal ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah yang perlu dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu.
Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu, termasuk dalam hal ini memberitahukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Penjelasan yang konstruktif  akan menarik bagi masyarakat dan akan diterima oleh masyarakat tanpa prasangka tertentu, hal ini akan mengarahkan mereka untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan sekolah. Untuk itu informasi yang ramah, obyektif  berdasarkan data-data yang ada pada sekolah.

3.6. Adaptability
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas, kebiasaan, budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi bekerja di sawah, tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada pagi hari.
Pengertian-pengertian yang benar dan valid tentang opini serta faktor-faktor yang mendukung akan dapat menumbuhkan kemauan bagi masyarakat untuk berpartisipasi ke dalam pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi sekolah.
4. Peranan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Sekolah sebagai partner masyarakat di dalam melaksanakan fungsi pendidikan. Dalam konteks ini, berarti keduanya, yaitu sekolah dan masyarakat dilihat sebagai pusat-pusat pendidikan yang potensial dan mempunyai hubungan yang fungsional.
Sekolah sebagai prosedur yang melayani kesan pesan pendidikan dari masyarakat lingkungannya. Berdasarkan hal ini, berarti antara masyarakat dengan sekolah memiliki ikatan hubungan rasional berdasarkan kepentingan di kedua belah pihak.
Masyarakat  berperan serta dalam mendirikan dan membiayai sekolah.
Masyarakat berperan dalam mengawasi pendidikan agar sekolah tetap membantu dan mendukung cita-cita dan kebutuhan masyarakat.
Masyarakat yang ikut menyediakan tempat pendidikan seperti gedung-gedung museum, perpustakaan, panggung-panggung kesenian, dan sebagainya.
Masyarakat yang menyediakan berbagai sumber untuk sekolah.
Masyarakat sebagai sumber pelajaran atau laboratorium tempat belajar seperti aspek alami, industri, perumahan, transportasi, perkebunan, pertambangan dan sebagainya.
5. Tugas Pokok Hubungan Sekolah dan Masyarakat dalam Pendidikan
1.        Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada
masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya.
2.        Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.
3.        Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu.
4.        Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan.
5.        Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama.
6.        Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan untuk kemajuan pelaksanaan pendidikan.
6.   Jenis-Jenis Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi 3   jenis, yaitu:
1.      Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak.
2.      Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya.
3.      Hubungan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.
7.  Faktor Pendukung Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bisa berjalan baik apabila di dukung oleh beberapa faktor yakni:
1.    Adanya program dan perencanaan yang sistematis.
2.    Tersedia basis dokumentasi yang lengkap.
3.    Tersedia tenaga ahli, terampil dan alat sarana serta dana yang memadai.
4.    Kondisi organisasi sekolah yang memungkinkan untuk meningkatkan kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat.
8. Teknik-Teknik Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (Orang Tua Murid)

Kenyataan membuktikan, hubungan sekolah dengan masyarakat tidak selalu berjalan baik. Berbagai kendala yang sering ditemukan antara lain : komunikasi yang terhambat dan tidak professional, tindak lanjut program yang tidak lancar dan pengawasan yang tidak terstruktur. Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut beberapa hal bisa menjadi alternatif, adanya laporan berkala mengenai berbagai kegiatan sekolah serta keuangannya, diadakannya berbagai kegiatan yang mengakrabkan seperti open house kunjungan timbal balik dan program kegiatan bersama seperti pentas seni, perpisahan.
Ada sejumlah teknik yang kiranya dapat diterapkan lembaga pendidikan, teknik-teknik tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu teknik tertulis, teknik lisan, dan teknik peragaan, teknik elektronik.
A.    Teknik Tertulis
Hubungan antara sekolah dan masyarakat dapat dilakukan secara tertulis, cara tertulis yang dapat digunakan meliputi:
Buku kecil pada permulaan tahun ajaran
Buku kecil pada permulaan tahun ajaran baru ini isinya dijelaskan tentang tata tertib, syarat-syarat   masuk, hari-hari libur, hari-hari efektif. Kemudian buku kecil ini dibagikan kepada orang tua murid, hal ini biasanya dilaksanakan di taman kanak-kanak (TK).
Pamflet
Pamflet merupakan selebaran yang biasanya berisi tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, dan kegiatan belajar. Pamflet ini selain di bagikan ke wali murid juga bias di sebarkan ke masyarakat umum, selain untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus untuk promosi lembaga.
Berita kegiatan murid
 Berita ini dapat dibuat sederhana mungkin pada selebaran kertas yang berisi informasi singkat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah atu pesantren. Dengan membacanya orang tua murid mengetahui apa yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut, khususnya kegiatan yang dilakukan murid.
Catatan berita gembira
Teknik ini sebenarnya mirip dengan berita kegiatan murid, keduanya sama-sama ditulis dan disebarkan ke orang tua. Hanya saja catatan berita gembira ini berisi tentang keberhasilan seorang murid. Berita tersebut ditulis di selebaran kertas dan disampaikan kepada wali murid atau bahkan disebarkan ke masyarakat.
Buku kecil tentang cara membimbing anak
 Dalam rangka menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang tua, kepala sekolah atau guru dapat membuat sebuah buku kecil yang sederhana yang berisi tentang cara membimbing anak yang efektif, kemudian buku tersebut diberikan kepada orang tua murid.
B.     Teknik Lisan
Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat juga lisan, yaitu:
Kunjungan rumah
Dalam rangka mengadakan hubungan dengan masyarakat, pihak sekolah dapat mengadakan kunjungan ke rumah wali murid, warga atupun tokoh masyarakat. Melalui kunjungan rumah ini guru akan mengetahui masalah anak dirumahnya. Apabila setiap anak diketahui problemnya secara totalitas, maka program pendidikan akan lebih mudah direncanakan untuk disesuaikan dengan minatnya.
Panggilan orang tua
 Selain mengadakan kunjungan ke rumah, pihak sekolah sesekali juga memanggil orang tua murid datang ke sekolah. Setelah datang, mereka diberi penjelasan tentang perkembangan pendidikan di lembaga tersebut. Mereka juga perlu diberi penjelasan khusus tentang perkembangan pendidikan anaknya.
Pertemuan
Dengan teknik ini berarti sekolah mengundang masyarakat dalam acara pertemuan khusus untuk membicarakan masalah atau hambatan yang dihadapi sekolah. Pertemuan ini sebaiknya diadakan pada waktu tertentu yang dapat dihadiri oleh semua pihak yang diundang. Sebelum pertemuan dimulai acaranya disusun terlebih dahulu. Oleh karena itu, setiap akan mengadakan pertemuan sebaiknya dibentuk panitia penyelenggara.
C.    Teknik Peragaan
Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan cara mengundang masyarakat melihat peragaan yang diselenggarakan sekolah. Peragaan yang diselenggarakan biasanya berupa pameran keberhasilan murid. Misalkan di TK menampilkan anak-anak bernyanyi, membaca puisi dan menari. Pada kesempatan itu kepala sekolah atau guru TK tersebut dapat menyampaikan program-program peningkatan mutu pendidikan dan juga masalah atau hambatan yang dihadapi dalam merealisasikan program-program itu.
D.    Teknik Elektronik
Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik maka dalam mengakrabkan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat pihak sekolah dapat menggunakan sarana elektronik, misalkan dengan telpon, televisi, ataupun radio, sekaligus sebagai sarana untuk promosi pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA

Mulyono, MA .2008.Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan.Ar-Ruzz Media
Handoko, T. Hani.1991.Manajemen.Edisi II.Yogyakarta:BPFE
Tim Dosen AP UPI.2009.Manajemen Pendidikan.Bandung:ALFABETA
MANAJEMEN KELAS DI SD

MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN DISPLIN SEKOLAH 






Disusun Oleh :
DIKI WAHYUDI.S
(1620234)


Dosen Pembimbing :
YESSI RIFMASARI, M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
STKIP ADZKIA PADANG
2019


MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT DALAM MELAKSANAKAN DISPLIN SEKOLAH 

A. Pengertian Displin Sekolah Dan Masyarakat

1. Disiplin di Sekolah
    Yaitu kedisiplinan siswa yang dapat dilihat dari ketaatan (kepatuhan) siswa terhadap aturan (tata tertib) yang berkaitan dengan jam belajar di sekolah, yang meliputi jam masuk sekolah dan keluar sekolah, kepatuhan siswa dalam berpakaian, kepatuhan siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan lain sebagainya. Semua aktifitas siswa yang dilihat kepatuhannya adalah berkaitan dengan aktifitas pendidikan di sekolah, yang juga dikaitkan dengan kehidupan di lingkungan luar sekolah. Dalam pelaksanaan disiplin, harus berdasarkan dari dalam diri siswa. Karena tanpa sikap kesadaran dari diri sendiri, maka apapun usaha yang dilakukan oleh orang di sekitarnya hanya akan sia-sia. Kedisiplinan mesti diterapkan secara tegas, adil dan konsisten.
    Aturan disiplin diterapkan tanpa pandang bulu dan berlaku bagi masyarakat sekolah. Ketidakadilan dalam menegakkan disiplin hanya akan membuat ketidakjelasan dan kebingungan bagi siswa serta hilangnya kewibawaan dan kepercayaan semua pihak terhadap sekolah., Ketika kedisiplinan mulai menampakkan pertumbuhannya, sama seperti biji tanaman yang baru tumbuh, benih itu mesti dijaga dan dirawat dengan penuh kesabaran. Sebaiknya hindari menggunakan ancaman-ancaman dan kekerasan karena hal itu hanya akan menjadi panasnya terik matahari yang akan menghanguskan benih yang sedang tumbuh itu. Perlu dipakai cara-cara yang selaras dengan perkembangan dan kebutuhan siswa sehingga mereka semakin jatuh cinta pada kegiatan belajar. Dengan cara ini, kedisiplinan akan disadari oleh semua pihak di sekolah. Dari situlah setiap individu di dalam lembaga pendidikan itu belajar hidup bersama dan belajar mengasah kepekaan moral mereka.

2. Disiplin di masyarakat
    Disiplin dimasyarakat yaitu mematuhi dan menjalankan segala tata tertib yang berlaku ditengah-tengah masyarakat guna membangun kehidupan bermasyarakat yang tertib, harmonis, serta meningkatkan kualitas masyarakat tersebut dari segala sudut pandang.

B. Membina hubungan sekolah dan masyarakat
    Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien. Berikut adalah jenis-jenis hubungan sekolah dan masyarakat :
1. Hubungan edukatif, merupakan hubungan kerjasama dalam hal mendidik, yaitu antara guru dan orang tua di dalam keluarga. Hubungan ini di maksutkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip dan pertentangan yang dapat menggakibatkan keragu-raguan pada diri anak atau murid. Cara kerjasama tersebut dapat direalisaskan dengan mengadakan pertemuan yang direncanakan secara periodik antara guru-guru di sekolah dengan orang tua murid.

2. Hubungan kultural, ialah usaha kerjasama antara sekolah dengan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan adanya hubungan kerjasama yang fungsional antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kuikulum sekolah disesusikan dengan kebutuhan dan tuntunan perkembangan masyarakat.

3.  Hubungan institusional, yakni hubungan kerjasama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi-instansi resmi lain. Dengan adanya hubungan ini, sekolah dapat meminta bantuan dari lembaga lain, baik berupa tenaga pengajar, pemberi ceramah, dan pengembangan materi kurikulum, maupu bantuan yang berupa fasilitas.

C. Contoh hubungan sekolah dengan masyarakat

1. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat Terkait Kedisiplinan
hubungan antara sekolah dan orang tua tersebut maka manfaat yang diharakan diperoleh adalah:
a. Orang tua siswa mengetahui tentang kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sekolah,
b. Sekolah mengetahui semua kegiatan orang tua dan para siswa di rumah,
c.  Orang tua siswa mau memberi perhatian yang sangat besar dalam menunjang kegiatan-kegiatan sekolah.

2.  Hubungan sekolah dengan Instansi terkait
Sekolah perlu membina hubungan baik secara timbal balik dengan instansi terkait, instansi terkait itu seperti Lurah/ Kepala Desa, Puskesmas, Camat, Polsek, Koramil, LKMD, dan Posyandu. Hubungan yang dijalin dan upaya yang perlu dilaksanakan oleh sekolah, antara lain sebagai berikut:
a.  Menginformasikan program sekolah
b. Ikut serta dalam kegiatan yang diadakan pemerintah, sepanjang tidak mengganggu proses belajar mengajar,
c. Pada saat yang diperlukan, Kepala Sekolah atau guru yang ditunjuk mengadakan kunjungan ke Instansi Pemerintah sebagai salah satu cara pendekatan dari pihak sekolah,
d. Sekali-kali dapat mengundang Pejabat Pemerintah d luar Depdikbud sebagai pembina dalam upacara bendera.





DAFTAR PUSTAKA


Asep Suryana .(2005). Makalah TECHNOLOGIES FOR RESTRUCTURED
CLASSROOMS, disampaikan dalam lokakarya .Universitas Negeri Yogya.

Asep suryana. 2006. Bahan belajar mandiri Manajemen kelas. Universitas Pendidikan
Indonesia
MANAJEMEN KELAS DI SD

PRINSIP-PRINSIP DISIPLIN KELAS





Disusun Oleh :
DIKI WAHYUDI.S
(1620234)


Dosen Pembimbing :
YESSI RIFMASARI, M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
STKIP ADZKIA PADANG

2019


PRINSIP-PRINSIP DISIPLIN DIKELAS

A. PENGERTIAN DISIPLIN
Dari segi etimologi kata “disiplin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “disicplus”yang mengandung makna pengikut atau penganut. Berdasarkan makna dari segi etimologi, disiplin diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk dalam peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Kata ”discipline” berasal dari bahasa latin menunjuk kepada belajar dan mengajar. Kata ini berasosiasi sangat dekat dengan isitilah ”disciple” yang mengikuti orang belajar dibawah pengawasan seorang pimpinan. Di dalam pembicaraan disiplin dikenal istilah yang pengertiannya hampir sama tetapi terbentuknya satu sama lain merupakan urutan. Kedua istilah itu adalah disiplin dan ketertiban ada juga yang menggunakan istilah siasat dan ketertiban.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 237) disiplin berarti tata tertib atau ketaatan pada peraturan. Senada dengan itu ada beberapa pengertian disiplin menurut para ahli yaitu:
1. Asy Mas’udi (2000:88)
Menyatakan disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tata tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapu
2. The Liang Gie (1972)
Mengatakan disiplin suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Dalam dictionary of education mengarikan disiplin sebagai berikut:
a. Proses/hasil pengarahan/ pengendalian keinginan dorongan atau kepentingan guna mencapai maksud/ untuk mencapai tindakan yang lebih efektif.
b. Mencari tindakan terpilih dengan ulet, aktif dan diarahkan sendiri, meskipun menghadapi rintangan.
c. Pengendalian prilaku secara langsung dan otoriter dengan hukuman/ hadiah.
d. Pengekangan dorongan dengan cara yang tidak nyaman dan behkan menyakitkan
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah ketaatan dan ketepatan pada suatu aturan yang dilakukan secara sadar tanpa adanya dorongan atau paksaan pihak lain atau suatu keadaan di mana sesuatu itu berada dalam tertib, teratur dan semestinya serta tiada suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ketertiban dilihat dari pengertiannya terbentuk lebih dulu baru kemudian disiplin.Ketertiban bersifat ekstrinsik sedangkan kedisiplinan lebih bersifat intrinsik. Ketertiban merupakan kepatuhan seseorang dalam mengikuti aturan karena didorong oleh sesuatu yang datangnya dari luar, misalnya: karena ingin mendapatkan pujian. Sedangkan, disiplin menunjuk kepada kepatuhan seseorang terhadap peraturan atau tata tertib karena didorong oleh kesadaran yang ada dalam kata hatinya. Oleh karena itu, biasanya ketertiban itu lebih dulu, kemudian baru berkembang menjadi sikap disiplin.
Orang yang mengikuti peraturan disebabkan karena rasa takut, didesak oleh berbagai kepentingan, belum dapat dikatakan perbuatan disiplin. Misalnya, seorang pengendara sepeda motor selalu membawa helm tetapi tidak dikenakan dan baru dikenakan jika akan melewati daerah yang diperkirakan ada polisi. Perbuatan tersebut bukanlah perwujudan dari sikap disiplin. Lain halnya jika seseorang menyadari bahwa naik kendaraan bermotor penuh dengan resiko, bahaya dapat datang kapan saja tanpa diperhitungkan, maka demi menjaga keselamatannya, ia mengenakan helm walaupun ia menaiki di jalan pedesaan, maka ia termasuk orang yang memiliki disiplin diri yang tinggi.
Dari segi etimologi kata “disiplin” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “disicplus”yang mengandung makna pengikut atau penganut. Berdasarkan makna dari segi etimologi, disiplin diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk dalam peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 237) disiplin berarti tata tertib atau ketaatan pada peraturan. Senada dengan itu ada beberapa pengertian disiplin menurut para ahli yaitu:
1. Asy Mas’udi (2000:88)
Menyatakan disiplin adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan tata tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tanpa paksaan dari siapapun.
2. The Liang Gie (1972)
Mengatakan disiplin suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.

B. Bentuk- Bentuk  Disiplin Belajar Siswa
Disiplin siswa dalam menentukan dan menggunakan cara atau strategi belajar. Keberhasilan siswa dalam studinya dipengaruhi oleh cara belajarnya. Siswa yang memiliki cara belajar yang efektif memungkinkan untuk mencapai hasil atau prestasi yang lebih tinggi dari pada siswa yang tidak mempunyai cara belajar yang efektif.
Untuk belajar secara efektip dan efisien diperlukan kesadaran dan disiplin tinggi setiap siswa. Belajar secara efektip dan efisien dapat dilakukan oleh siswa yang berdisiplin. Siswa yang memiliki disiplin dalam belajarnya akan berusaha mengatur dan menggunakan strategi dan cara belajar yang tepat baginya. Jadi langkah pertama yang perlu dimiliki agar dapat belajar secara efektip dan efisien adalah kesadaran atas tanggung jawab pribadi dan keyakinan bahwa belajar adalah untuk kepentingan diri sendiri, dilakukan sendiri dan tidak menggantungkan nasib pada orang lain.
Hal ini sejalan dengan pendapat yang menyatakan belajar akan lebih berhasil apabila kita memiliki :
1. Kesadaran atas tanggung jawab belajar,
Cara belajar yang efisien, Syarat-syarat yang diperlukan ( Oemar Hamalik,Metoda Belajar Dan Kesulitan-KesulitanBelajar(Bandung: Tarsito,2005)
Selain memiliki strategi belajar siswa yang tepat, siswa juga perlu memperhatikan metode atau cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dalam belajarnya. Seperti yang kita ketahui belajar bertujuan untuk mendapat pengetahuan, sikap, kecakapan dan keterampilan. Cara yang demikian itu jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan disiplin tinggi maka akan menjadi suatu kebiasaan, dan kebiasaan dalam belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Demikianlah cara-cara belajar yang perlu diperhatikan oleh setiap siswa, karena dengan memiliki cara belajar yang baik akan membantu siswa dalam mencapai prestasi yang tinggi, dan cara tersebut dapat dilaksanakan dengan baik secara teratur setiap hari, apabila siswa memiliki sikap disiplin. Jadi siswa yang pada dirinya tertanam sikap disiplin akan selalu mencari dan menentukan cara belajar yang tepat baginya.

2. Disiplin terhadap pemanfaatan waktu
Cara mengatur waktu belajarsebagai berikut:
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh pelajar atau siswa adalah banyak pelajar atau siswa yang mengeluh kekuragan waktu untuk belajarnya, tetapi mereka sebenarnya kurang memiliki keteraturan dan disiplin untuk mempergunakan waktu secara efisien. Banyak waktu yang terbuang-buang disebabkan karna mengobrol omongan-omongan yang tidak habis-habisnnya. Sikap yang demikian itu harus ditinggalkan oleh siswa karena yang demikian itu tidak bermanfaat baginya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang berhasil mencapai kesuksesan dalam hidupnya adalah orang-orang yang hidup teratur dan berdisiplin memanfaatkan waktunya. Dalam ajaran islam disiplin dalam pemanfaatan waktu sangat dianjurkan, disiplin bukan hanya dalam pemanfaatan waktu belajar saja, tetapi disiplin perlu juga dilakukan oleh setiap orang dalam setiap waktu dan kesempatan.
Dalam belajar pemanfaatan waktu secara baik dan dikerjakan dengan baik dan tepat waktu adalah merupakan hal yang terpuji. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa penggunaan atau pamanfaatan waktu dangan baik menumbuhkan disiplin dalam mempergunakan waktu secara efisien.

3. Pengelompokan waktu.
Banyak siswa yang belajarnya kurang dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya karena tidak membagi-bagi waktunya untuk macam-macam keperluan, oleh karna itu, berbagai segi dan teknik untuk mengatur pemakaian waktu perlu dipahami sebagai langkah untuk mengembangkan keterampilan mengelola waktu studi.

4. Penjatahan waktu belajar.
Setiap siswa perlu mengadakan prinsip belajar secara taratur.dan untuk belajar secara teratur setiap hari harus mempunyai rencana kerja. Agar siswa tidak bayak membuang waktu untuk memikirkan mata pelajaran yang akan dipekajari suatu saat dan apa yang harus dikerjakannya. Oleh karna itu agar siswa tidak dihinggapi keraguan-keraguan terhadap apa yang hendak dipelajarinya maka ia harus punya rencana kerja atau daftar waktu dalam belajar.
Adapun cara untuk membuat jadwal yang baik adalah sebagai berikut
a. Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperlua-keperluan tidur, belajar, makan, mandi, olah raga dan lain-lain.
b. Menyelidiki dan menentukan waktu-waktu yang tersedia setiap hari.
c. Merencanakan peggunaan belajar itu dengan cara menetapkan jenis-jenis mata pelajaran dan urutan-urutan yang harus dipelajari.
d. Menyelidiki waktu-waktu mana yang dapat dipergunakan untuk belajar dengan hasil terbaik.
e. Berhematlah dengan waktu, setiap siwa janganlah ragu untuk memulai pekerjaan, termasuk juga belajar.

5. Disiplin terhadap tugas.
a. Mengerjakan tugas rumah sebagai berikut :
Salah satu prinsip belajar adalah ulangan dan latihan. Sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa : ”Mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes atau ulangan atau ujian yang diberikan guru, tetapi juga termasuk membuat atau mengerjakan latihan-latihan yang ada dalam buku ataupun soal-soal buatan sendiri”(Slameto, Belajar Dan Faktor-Fakto yang Mempengaruhinya(Jakarta: Rineka Cipta,2003)
Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka, tugas itu dapat berupa tes atau ulangan dan juga dapat berupa latihan-latihan soal atau pekerjaan rumah.jika siswa mempunyai kebiasaan untuk melatih diri mengerjakan soal-soal latihan serta mengerjakan pekerjaan rumah dengan disiplin, maka siswa tersebut tidak akan terlalu kesulitan dalam belajarnya, serta dapat dengan mudah mengerjakan setiap pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru.
b. Mengerjakan tugas di sekolah
Adapun tugas di sekolah mencakup mengerjakan latihan-latihan tes atau ulangan harian, ulangan umum ataupun ujian, baik yang tertulis maupun lisan. Dalam menghadapi tugas-tugas di atas perlu dilaksanakan langkah-langkah persiapan sebagai berikut :
1) Hindarilah belajar terlalu banyak pada saat-saat terahir mengerjakan tes (semua bahan hendaknya sudah siap jauh-jauh sebelumnya).
2) Pelajarilah kembali bahan yang sudah pernah didapat secara teratur sehari atau dua hari sebelumnya.
3) Buatlah suatu ringkasan atau garis besar tentang bahan yang sedang dipelajari kembali itu.
4) Pelajarilah juga latihan soal dan hasil tugas yang sudah pernah dikerjakan.
5) Peliharalah kondisi kesehatan.
6) Konsentrasikan seluruh perhatian terhadap tugas yang akan ditempuh.
7) Siapkanlah segala alat atau perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan dan jika diperlukan syarat-syarat tertentu, bereskanlah seawal mungkin

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi. (1995). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
MANAJEMEN KELAS DI SD

TAHAPAN PENANGGULANGAN DISPLIN KELAS




Disusun Oleh :
DIKI WAHYUDI.S
(1620234)


Dosen Pembimbing :
YESSI RIFMASARI, M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
STKIP ADZKIA PADANG
2019







TAHAPAN PENANGGULANGAN DISPLIN KELAS

 A. Dimensi Pencegahan (preventif),

   merupakan tindakan guru dalam mengatur peserta didik dan peralatan serta format pembelajaran yang tepat sehingga menumbuhkan kondisi yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Jadi, prosedur dalam dimensi pencegahan adalah berupa langkah-langkah yang harus direncanakan guru untuk menciptakan suatu struktur  kondisi yang fleksibel baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Prosedur tindakan pencegahan ini diarahkan pada pelayanan perkembangan tuntutan dan kebutuhan peserta diduk secara individual maupun kelompok yang dapat berupa kegiatan.

B. Dimensi kuratif

 merupakan tindakan terhadap tingkah laku yang menyimpang yang sudah terlanjur terjadi penyimpangan agar penyimpangan itu tidak berlarut-larut. Dalam hal ini guru berusaha untuk menumbuhkan kesadaran akan penyimpangan yang dibuat dan akhirnya akan menimbulkan kesadaran dan tanggung jawab untuk memperbaiki diri melaui kegiatan-kegiatan yang direncanakan dan dapat dipertangjawabkan. Memperhatikan dua dimensi tindakan dalam manajemen kelas, maka langkah-langkah manajemen kelas bertumpu pada prosedur dimensi pencegahan dan prosedur dimensi penyembuhan.

a)      Prosedur dimensi pencegahan
  Tindakan pencegahan adalah tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang mengganggu kondisi optimal brlangsungnya pembelajaran. Keberhasilan dalam tindakan pencegahan merupakan salah satu indicator keberhasilan manajemen kelas. Konsekuensinya adalah guru dalam menentukan langkah-langkah dalam rangka manajemen kelas harus merupakan langkah yang efektif dan efisien. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Merupakan langkah yang mendasar dan strategis karena dengan dimilikinya kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar guru dalam melaksanakan tugasnya. Implikasinya adanya kesadaran diri sebagai guru akan tampak pada sikap guru yang demokratis, sikap yang stabil, kepribadian yang harmonis, dan berwibawa. Penampakan sikap seperti ini akan menumbuhkan respond an tanggapan positif dari pesrta didik.
2.   Peningkatan pesrta didik
Interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran terjadi apabila dua kesadaran, kesadaran guru dan peserta didik bertemu.untuk meningkatkan kesadaran peserta didik maka kepada mereka perlu dilaksanakan hal-hal: memberitahukan akan hak dan kewajiban sebagai peserta didik, memperhatikan kebutuhan dan keinginan peserta didik, serta rasa keterbukaan antara guru dan peserta didik.
3.  Sikap polos dan tulus guru
Peran sngat besar dan berpengaruh dalam menciptakan kondisi optimal proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru hendaknya bersikap polos dan tulus terhadap para pesrta didik. Sikap ini mengandung makna bahwa guru dalam segala tindakannya tidak boleh berpura-pura bersikap dan bertindak apa adanya. Sikap hangat dan terbuka mau mendengarkan harapan dan keluhan peserta didik, akrab dengan guru akan membuka kemungkinan terjadinya interaksi dan komunikasi wajar antara guru dengan pesrta didik.
4.  Mengenal dan menemukan alternative pengelolaan
Untuk mengenal dan menemukan alternative pengelolaan langkah ini menuntut guru: melakukan identifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku pesrta didikyang sifatnya individual maupun kelompok, mengenal berbagi pendekatan dalam manajemen kelas, dan mempelajari guru-guru lainnya yang gagal atau berhasil sehingga dirinya memiliki alternative yang bervariasi dalam menangani berbagai problema manajemen kelas.
5. Menciptakan kontrak social
Penciptaan kontrak social pada dasarnya berkaitan dengan standar tingkah laku yang diharapkan seraya memberi gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya dalammemenuhi kebutuhan peserta didik. Pemenuhan kebutuhan tersebut sifatnya individual dan kelompok dan memenuhi kebutuhan serta tuntutan sekolah. Standar tingkah laku ini di bentuk melalui kontrak social antara sekolah atau guru dan peserta didik.

  Prosedur dimensi penyembuhan (kuratif)

Pada dasarnya langkah-langkah dimensi penyembuhan antara lain sebagai berikut:
1.   Mengidentifikasi masalah
Guru, pada langkah ini melakukan kegiatan untuk mengenal atau mengetahui masalah-masalah manajemen kelas yang timbul dalam kelas. Berdasar masalah tersebut guru mengidentifikasi jenis-jenis penyimpangan sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik melakukan penyimpangan itu.
2.  Menganalisis masalah
Guru, pada langkah ini berusaha menganalisis penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang dan sumber-sumber dari penyimpangan itu. Setelah diketemukan hal-hal yang berkaitan denganpenyimpangan tersebut guru kemudian melanjutkan usahanya yaitu menentukan alternatif-alternatif penanggulangan atau penyembuhan penyimpangan itu.
3. Menilai alternatif-alternatif pemecahan
Guru, pada langkah ini adalah menilai dan dan memilih alternative pemecahan masalah berdasar sejumlah alternative yang telah tersusun. Menentukan alternative mana yang tepat untuk menaggulangi penyimpangan pserta didik.
4.  Mendapatkan balikan
Guru, pada langkah ini yang didahului dengan langkah monitoring, melakukan kegiatan kilas balik. Kegiatan kilas balik ini yaitu untuk menilai keampuhan pelaksanaan dari alternative pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan yang direncanakan. Kegiatan kilias balik dapat dilaksanakan dengan mengadakan pertemuan dengan peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA

Suhardan.2009.Manajemen Pendidikan,Bandung: Alfabeta.
Djamarah dan Zain. 2002.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT     Renika Cipta.
Sholihah.2008.Strategi Pembelajaran Yang Efektif. Jakarta: Citra Grafika Desain. 
MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA




Disusun Oleh :
DIKI WAHYUDI.S
(1620234)


Dosen Pembimbing :
YESSI RIFMASARI, M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
STKIP ADZKIA PADANG
2019






MASALAH DALAM KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA

A. KEBIJAKAN PENANGANAN MASALAH DALAM KELAS

Kebijakan dalam penanganan masalah dalam kelas dengan cara :
1. melakukan pendekatan terhadap siswa
2. pencarian data tentang masalah
3. melakukan konsultasi secara pribadi

B. MACAM-MACAM PERMASALAHAN DALAM MANAJEMEN KELAS
 Menurut Syaiful Bahri Djamarah faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah dalam manajemen kelas adalah:
1. Pengelompokkan, adanya pengelompokkan siswa berdasarkan kriteria tertentu.
2.    Karakteristik individual siswa.
3. Kelompok pandai merasa terhalangi terhadap kelambananan teman-temannya yang tidak secerdas mereka.
4. Adanya keharusan bagi siswa untuk tenang dan bekerja selama jam pelajaran sehingga akan menimbulkan ketegangan dan kecemasan.
5. Adanya organisasi kurikulum tentang team teaching.

   Menurut Mulyadi timbulnya masalah dalam manajemen kelas dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:[2]
1.    Faktor guru
Beberapa faktor penyebab timbulnya masalah dalam manajemen kelas yang berasal dari guru diantaranya:
a.    Tipe kepemimpinan guru yang otoriter
Tipe kepemimpinan guru dalam mengelola proses belajar mengajar yang otoriter dan kurang demokratis akan meumbuhkan sikap agresif atau pasif dari murid-murid. Kedua sikap murid ini merupakan sumber masalah manajemen kelas.
b.    Format belajar mengajar yang monoton
Format belajar mengajar yang monoton akan menimbulkan kebosanan bagi siswa. Format belajarn yang tidak bervariasi dapat menyebabkan para siswa bosan, kecewa, frustasi dan hal ini merupakan pelanggaran disiplin.
c.    Kepribadian guru
Seorang guru yang berhasil dituntut untuk bersikap adil, hangat, objektif dan fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Sikap yang bertentangan dengan kepribadian tersebut akan menimbulkan masalah manajemen bagi siswa.
d.   Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku siswa dan latar belakangnya.
Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru dengan sengaja memahami siswa dan latar belakangnya.
e.    Terbatasnya pengetahuan guru tentang masalah manajemen dan pendekatan manajemen baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis.
2.    Faktor siswa
Kekurangsadaran siswa dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas dapat merupakan faktor utama penyebab masalah manajemen kelas.
3.    Faktor keluarga
Kebiasaan yang kurang baik di lingkungan keluarga, seperti tidak patuh pada disiplin, tidak tertib, kebebasan yang berlebihan ataupun dikekang berlebihan akan menyebabkan siswa melanggar disiplin di kelas.
4.    Faktor fasilitas
Ruang kelas yang kecil dibanding dengan jumlah siswa dan kebutuhan siswa untuk bergerak dalam kelas merupakan salah satu problema yang terjadi pada manajemen kelas.
Jadi, dapat penulis kemukakan bahwa timbulnya masalah dalam manajemen kelas dapat disebabkan oleh banyak hal

C. SOLUSI DALAM MENGATASI PERMASALAHAN MANAJEMEN KELAS

   Untuk mengatasi masalah dalam pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
a.  Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Namun demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
b.  Socio-Emotional Climate Approach (Humanistic Approach) : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan; serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian. Selain itu juga dikemukakan William Glasser bahwa guru sebaiknya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committedterhadap rencana yang telah dibuat memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru yang lebih baik. Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat
c.  Group Process Approach : Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip – prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu : (a) mutual expectations; (b) leadership; (c) attraction (pola persahabatan); (c) norm; (d)communication; (d) cohesiveness.
d. Pendekatan Otoriter : Pandangan yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka perlu adanya pendekatan:
1.      Perintah dan larangan
2.      Penekanan dan penguasaan
3.      Penghukuman dan pengancaman
4.      Pendekatan perintah dan larangan
e.  Pendekatan Permisif : Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan peserta didik. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik. Diantaranya yaitu sebagai berikut:
1.  Tindakan pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
2.      Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
3.      Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4.      Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang sebenarnya.
5.      Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
6.      Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
f.      Pendekatan membiarkan dan memberi kebebasan : Sekali lagi pengajar memandang peserta didik telah mampu melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar.“Biarlah mereka bekerja sendiri dengan bebas”, demikian pegangan pengajar dalam mengelola kelas.Lebih kurang menguntungkan lagi kalau selama peserta didik bekerja sendiri, pengajar juga aktif mengerjakan tugas sendiri dan pada saat waktu habis baru ditanyakan atau disusun.Percaya atau tidak bahwa hasil bekerja peserta didik belum memadai dan kurang terarah Akibat yang sering terjadi peserta didik merasa telah benar dengan tingkah laku dalam pengerjaan tugas, telah bertanggung jawab dalam kelompok atau kelas itu.Tapi ternyata setelah dibandingkan dengan kelompok lainnya kurang atau malahan lebih rendah.Kedua pendekatan inipun kurang menguntungkan, tanpa kontrol dan pengajar bersikap serta memandang ringan terhadap gejala-gejala yang muncul.Pihak pengajar dan peserta didik tampak bebas, kurang memikat.

















DAFTAR PUSTAKA

Almasawi,dkk. 2010. Masalah-masalah dalam Manajemen Kelas.

http://tugas-makalah.blogspot.com/2012/06/masalah-masalah-dalam-manajemen-kelas.html. diakses tanggal 20 Februari 2013,Pekanbaru:UINSultan Syarif Kasim Riau

Ekosiswoyo, Rasdi. 2000. Manajemen kelas. Semarang: CV. Ikip.Semarang press
Missmelind, 2011. Pengaturan kondisi dan penciptaan klim belajar yang menunjang.http://missmelind.blogspot.com/2011_03_01_archive.html. diakses tanggal 20 Februari 2013

Jumat, 23 Agustus 2019

ESUME
MANAJEMEN KELAS di SD
Tentang
Prinsip Belajar Mengajar dan Keterampilan Dalam Mengajar





Di Susun Oleh :
Diki Wahyudi . S
:
1620234



Dosen Pembimbing:
Yessi Rifmasari, M.Pd

PROGRAM  STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2019


BELAJAR DAN MENGAJAR
a.      Belajar
Belajar adalah tindakan mendapatkan pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dengan memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan tugas apa pun dengan mensintesis berbagai jenis informasi yang dirasakan oleh kami.Belajar membawa perubahan dalam perilaku individu yang ada.
Belajar menurut beberapa ahli ialah:
Belajar adalah proses dimana perilaku (dalam pengertian asrama) berasal atau berubah melalui latihan atau pelatihan. (Kingsley dan Garry)
  Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam potensi perilaku yang terjadi sebagai hasil dari latihan yang diperkuat. (kimble)
  Belajar adalah perolehan dari perilaku baru atau penguatan atau melemahnya perilaku lama sebagai hasil dari pengalaman. (Henry P Smith)
Belajar didefinisikan sebagai perolehan kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Ini melibatkan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, dan itu beroperasi dalam upaya individu untuk mengatasi hambatan atau menyesuaikan diri dengan situasi baru. Ini mewakili perubahan progresif dalam perilaku. Itu memungkinkan dia memuaskan minat untuk mencapai tujuan.
Menurut Cronbach, Harold Spears, dan Geoch (dalam Sardiman AM, 2005:20) memberikan pengertian tentang belajar sebagai berikut :
Cronbach memberikan definisi “Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman.
Harold Spears memberikan batasan”Learning is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to listen, to follow direction”. Belajar adalah mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan.
 Geoch, mengatakan “Learning is a change in performance as a result of practice”. Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.
Dari beberapa definisi tentang belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Process (dalam Muhibbin Syah, 2003: 64) yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian) tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, belajar adalah ...a process of progressive behaviour adaptation.
b.      Mengajar
Istilah belajar dan mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda, akan tetapi antara keduanya terdapat suatu hubungan yang erat sekali. Bahkan antara keduanya terjadi kaitan dan interaksi satu sama lain. Antara kedua kegiatan itu saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain. Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Menurut Oemar Hamalik, mengajar memiliki beberapa definisi penting, diantaranya :
Mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah.
Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
Mengajar adalah usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.
Mengajar atau mendidik itu adalah memberikan bimbingan belajar kepada murid.
Mengajar adalah kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Mengajar adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, “ Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa guna membantu siswa menghadapi masalah yang terdapat pada kehidupan sehari-hari
PRINSIP BELAJAR DAN MENGAJAR
Prinsip Belaja
Menurut Keller (dalam Prasetya, 1997):
Attention  : perhatian muncul karena didorong oleh rasa ingin tahu.
  Relevansi : hubungan materi dengan kebutuhan dan kondisi siswa.
 Confidence/percaya diri : mendorong dan memotivasi.
  Satisfaction/ kepuasan : keberhasilan,kepuasan, memotivasi untuk melakukan kembali.
Prinsip Mengajar
Stimulation : suatu upaya yang melahirkan atau menyebabkan lahirmya motivasi pada diri siswa untuk mempelajari sesuatu yang baru, yakni dengan menciptakan sesuatu yang penting untuk dipelajari.
Guidance ( bimbingan ) : membantu siswa untuk mengembangakan kemampuannya, keterampilan, sikap dan pengetahuan sampai tingkat maksimum bagi penyesuaian yang tepat dengan lingkunganya serta mendorong siswa untuk memiliki keberanian dan antusiasme dalam mencapai belajar secara maksimum.
    Direction ( mengarahkan ) : mengajar bukanlah sesuatu yang sembarangan tetapi mengajar adalah suatu kegiatan yang bertujuan, yang mengarah pada perilaku yang sudah ditetapkan.
    Encouragement of learning ( memiliki keberanian dalam mengajar) : membantu siswa dalam berbagai tindakan yang sesuai dengan apa yang diarahkan oleh guru pada tingkat, prinsip, dan professional tertentu.


KETERAMPILAN - KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan Mengajar Seorang Guru
Tidak bisa berhasil jika dia tidak bisa menyampaikan ilmunya kepada murid-muridnya tidak peduli seberapa kompeten dia dalam materi pelajaran. Oleh karena itu, guru perlu memiliki keterampilan mengajar (Erden, 2007; Tezcan, 1996)). Guru mengendalikan proses belajar dan mengajar dengan cara merencanakan dan melaksanakan pelajaran, mengevaluasi siswa, menjaga ketertiban di kelas dan memastikan bahwa siswa mereka berpartisipasi dalam kegiatan yang dapat bermanfaat bagi mereka untuk mencapai tujuan pelajaran (un Acokgoz , 2004).
            Guru, yang memungkinkan interaksi di antara unsur-unsur utama sistem pendidikan seperti siswa, program pendidikan, guru dan lingkungan (Posner, 1995) dan yang mengambil tugas mendidik individu muda yang dibutuhkan masyarakat, memiliki tempat khusus dan kepentingan dalam ruang lingkup elemen-elemen utama ini. Profesi mengajar mulai berkembang dengan munculnya pendidikan sebagai bidang profesi dan panggilan. Sudah lama diperdebatkan apakah mengajar itu profesi atau bukan. Pada akhirnya, disepakati bahwa mengajar adalah profesi yang berbeda dan bahwa ia memiliki semua kualitas yang harus dimiliki oleh suatu profesi (Tezcan, 1996).
Karakteristik Pengajaran Yang Baik
Sulit untuk mengatakan apa itu pengajaran yang baik, karena dapat mengambil banyak bentuk. Untuk mengilustrasikan argumen ini, itu yang diharapkan bahwa ceramah memberikan kesempatan untuk menunjukkan perilaku mengajar yang berbeda kepada mereka yang mungkin terlihat dalam tutorial, lokakarya, laboratorium, atau online. Demikian pula halnya dengan kardinalitas hubungan guru dengan siswa  memungkinkan berbagai bentuk komunikasi dan teknik pengajaran yang akan diterapkan untuk membantu belajar untuk efek yang berbeda. Juga, di mana kegiatan belajar mengajar yang saling melengkapi (misalnya guru membrikan informasi kepada siswa tentang praktik laboratorium) fokus pada berbagai aspek pembelajaran atau berbagai langkah dalam proses pembelajaran, mungkin ada perbedaan yang diperlukan dalam perilaku mengajar yang bisa diamati dalam pengaturan yang berbeda.
Nulty (2001) menunjukkan: Karakteristik pengajaran yang baik tidak berubah; apa perubahan adalah cara-cara di mana masing-masing guru mewujudkan karakteristik itu.  Boyer (1990) menggambarkan mengajar sebagai:
Usaha dinamis yang melibatkan semua analogi, metafora, dan gambar itu
membangun jembatan antara pemahaman guru dan pembelajaran siswa.
Dan selanjutnya mengamati bahwa:
a.  Guru yang hebat menciptakan landasan bersama dalam komitmen intelektual.
b.   Mereka merangsang pembelajaran aktif, tidak pasif dan mendorong siswa untuk bersikap kritis, pemikir kreatif, dengan kapasitas untuk terus belajar.
Untuk mencapai tujuan ini, Boyer menganjurkan pendekatan ilmiah untuk kebaikan mengajar sedemikian rupa sehingga guru juga harus menjadi pembelajar, dan dengan demikian pengembang, dari mereka mengajar seni.
Satu hal kontekstual lainnya juga perlu diperhatikan: ada dua istilah yang sering digunakan ketika membahas kualitas pengajaran, dan mereka adalah: pengajaran yang baik dan efektifmengajar . Bagi kami, pengajaran yang baik lebih berkaitan dengan kualitas gurulakukan dalam persiapan, pelaksanaan dan analisis praktik mereka sendiri. Banyak mengajar instrumen pengamatan memiliki fokus pada guru, tetapi ini hanya bagian dari gambar dalam sistem pembelajaran di kelas.
Mengetahui Dan Mengembang Kerangka Kerja Untuk Pengamatan Sesama Mengajar
Merupakan tentang membangun jembatan antara pemahaman guru dan siswa belajar, maka perlu juga ada konsentrasi pada seberapa baik guru melibatkan siswa dalam proses, objek, dan keterkaitan belajar. Istilah pengajaran yang efektif berkonotasi dengan fokus yang lebih besar ini pada efek yang dimiliki kegiatan belajar mengajar pada siswa. walaupun sastra menggunakan istilah-istilah tersebut secara bergantian, dari titik ini dalam bab ini kami berikan preferensi untuk istilah pengajaran yang efektif karena ini menghitung ulang seperangkat perilaku oleh guru yang mencakup tidak hanya apa yang dilakukan guru, tetapi juga apa siswa melakukannya (Shuell, 1986), dan itu, seperti yang ditekankan oleh Biggs (2003b), adalah akhirnya lebih penting.
Karakteristik Pengajaran yang Efektif
Masih ada literatur menyediakan banyak akun yang menggambarkan karakteristik pengajaran yang efektif (contohnya meliputi: Biggs, 2003b; Chickering & Gamson, 1987; Nulty, 2001; Ramsden, 1992; Young & Shaw, 1999). Di mana kita mulai dalam bab ini adalah dengan delapan karakteristik pengajaran yang efektif yang awalnya disajikan sebagai "dimensi pengajaran yang baik ”(Nulty, 2001).
Nulty (2001) (ia memanggil mereka dimensi) diikuti dengan pertimbangan sumber literatur lebih lanjut yang mendukung masing-masing, dan perbaikan yang dilakukan untuk masing-masing.
Dimensi 1 - Apakah Guru dengan Jelas Menyampaikan Tujuan Pembelajaran danTujuan?
Kejelasan maksud dan tujuan berguna dari sudut pandang guru, karena itu erarti bahwa tindakan mengajar dapat dilakukan dengan tujuan, sengaja dan terencana. Saya berarti bahwa guru diberdayakan melalui agen aktif.
Pada akhirnya, pengajaran yang efektif haruslah siswa terpusat karena jika mengajar dianggap sebagai 'efektif' maka itu harus mendukung peserta didik ' belajar. Ada dasar sastra yang kuat untuk mendukung karakteristik pengajaran yang efektif ini. Misalnya, standar pertama Glassick (2000) untuk beasiswa sebagaimana diterapkan pada pengajaran adalah ketentuan tujuan yang jelas yang: memberikan tujuan dasar untuk suatu kelas; menetapkan Tujuan Pembelajaran; realistis dan dapat dicapai; dan mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan penting di bidang yang dibahas oleh pelajaran. Demikian juga, prinsip keempat Ramsden (1992) dari pengajaran yang efektif mempromosikan penyediaan tujuan yang jelas dan tantangan intelektual, menyarankan bahwa tujuan pembelajaran harus dengan jelas memperpanjang arus siswa pemahaman dan kemampuan.
Tujuan pembelajaran yang jelas pada awal setiap kelas memastikan bahwa siswa menyadari harapan belajar, persyaratan untuk penilaian, dan memanfaatkan pendekatan strategis untuk pembelajaran (Entwistle, 2001) yang banyak dilakukan siswa mengadopsi dalam pendidikan tinggi.
Dimensi 2 - Apakah Guru Menunjukkan Pengetahuan Konten Lanjutan dan Keterampilan Pedagogis?
Karakteristik pengajaran yang efektif ini memiliki dua perbedaan dan sama pentingnya aspek: pengetahuan konten disiplin, dan keterampilan pedagogis. Pengetahuan konten dan pedagogi yang efektif terkait erat. Istilah "konten pedagogis pengetahuan ”pertama kali dijelaskan oleh Shulman (1986) sebagai [Melampaui] pengetahuan tentang materi pelajaran per se ke dimensi subjek pengetahuan materi untuk mengajar.
Dimensi 3 - Apakah Guru Menunjukkan Karakteristik Pribadi yang Cocok?
Penting untuk dicatat bahwa dimensi ini harus difokuskan pada kepribadian tertentu
ciri-ciri dan bukan penilaian umum tentang kepribadian guru. Itu juga penting untuk memastikan bahwa dimensi ini tidak dapat diartikan sebagai peluang untuk karakter pembunuhan. Sementara ini mungkin hanya masalah kesopanan sederhana di Barat dunia, dalam beberapa budaya Asia ada implikasi serius bagi pribadi atau keluarga kehormatan dan martabat jika umpan balik menghasilkan persyaratan bagi seorang guru untuk menyelamatkan muka (Leung & Cohen, 2011).
Dimensi 4 - Apakah Guru Memperlihatkan Kepedulian kepada Siswa dan Mereka Belajar?
Karakteristik ini secara terang-terangan mengangkat fokus dari guru dan kepribadian mereka ciri-ciri, untuk memenuhi kebutuhan siswa - yang menunjukkan siswa yang berpusat pada siswa pendekatan untuk mengajar. Prinsip kedua Ramsden (1992) untuk pengajaran yang efektif berkaitan dengan kepedulian dan rasa hormat kepada siswa dan melibatkan kemurahan hati seorang guru orang, kebajikan, kerendahan hati, minat yang jelas dalam mengajar, dan ketersediaannya kepada siswa untuk bantuan
Dimensi 5 - Apakah Guru Terlibat dan Berkomitmen pada Penggunaan Formatif Prosedur Penilaian?

Prinsip kunci keenam Ramsden (1992) untuk pengajaran yang efektif di pendidikan tinggi adalah bahwa guru universitas harus belajar dari siswa mereka dengan menilai secara terus menerus efek pengajaran mereka pada pembelajaran siswa danmemodifikasi pendekatan mereka berdasarkan pada bukti itu. Dalam penggambaran ini, penilaian formatif adalah tentang mencari tahu apa siswa memahami dan kemudian, jika perlu, memberikan umpan balik perkembangan atau menyusun kegiatan yang sesuai untuk memperbarui pemahaman itu. Kunci ketiga Ramsden Prinsipnya menyangkut penyediaan penilaian dan umpan balik yang tepat untuk siswa.
Dimensi 6 - Apakah Guru Fokus pada Mendorong Hasil Pembelajaran yang Mendalam?
Hasil belajar yang mendalam adalah yang secara kolektif terdiri dari pemahaman, dan kemampuan untuk menerapkan pemahaman itu, bukan hanya menghafal (Marton & Saljo, 1976). Hasil pembelajaran yang mendalam kemudian dianggap sebagai hasil belajar berkualitas tinggi. Mencapai hasil seperti itu terjadi sebagai hasil dari mengadopsi pendekatan yang mendalam belajar (Biggs, 1987; Entwistle, McCune, & Walker, 2001; Marton & Saljo, 1984), dan menghasilkan ini adalah bagian dari peran guru yang efektif. Dapat dikatakan bahwa tidak setiap kegiatan belajar mengajar dimaksudkan untuk itu menimbulkan hasil belajar tingkat tinggi.
Dimensi 7 - Apakah Guru Menunjukkan Desain Kurikulum yang Efektif?
Kurikulum dapat dianggap secara luas sebagai silabus atau program studi yang ada terdiri dari empat elemen penting yang terhubung: konten; mengajar dan belajar strategi; proses penilaian; dan proses evaluasi (Prideaux, 2003). Juga meliputi struktur dan urutan (Kember & Wong, 2000) kegiatan dan item penilaian - dalam satu pelajaran atau kelas; melintasi kursus atau unit saat dibuka; dan selaras dengan kurikulum kursus terkait dalam suatu program atau gelar.
Dimensi 8 - Apakah Guru Menunjukkan Komitmen Meningkatkan MerekaPengajaran?
Karakteristik ini berbicara dengan pendekatan ilmiah seorang guru untuk pengajaran dan sampai batas tertentu, beasiswa mengajar. Pendekatan ilmiah untuk mengajar adalah tentang menjadi praktisi reflektif (Biggs, 2001; Boud, 1999; Kane, Sandretto, & Heath, 2004; Leitch & Day, 2000; Schön, 1983) dan tentang terlibat dengan ilmiah literatur untuk menginformasikan praktik mengajar (Shulman, 1986, 1987). Beasiswa mengajar dibangun berdasarkan pendekatan ilmiah dengan mempublikasikan praktik dan membukanya ulasan sejawat dan kritik terhadap standar yang diterima (Hutchings & Shulman, 1999).Keterampilanmengajar adalah kecakapan atau kemampuan pengajar dalam menjelaskan konsep terkait dengan materi pembelajaran. Dengan demikian seorang pengajar harus mempunyai persiapan mengajar, antara lain harus menguasai bahan pembelajaran mampu memilih strategi, metode dan media, penguasaan kelas yang baik, serta menentukan system penilaian yang tepat.
1.      Keterampilan Bertanya
2.      Keterampilan Memberi Penguatan
3.      Keterampilan Menggunakan Variasi
4.      Keterampilan Menjelaskan
5.      Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
6.      Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
7.      Keterampilan Mengelola Kelas
8.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
TUJUAN KETERAMPILAN MENGAJAR
Supaya guru atau tenaga pendidik dapat memahami hakikat keterampilan dasar mengajar yang dapat dipraktikan didalam kelas
   Untuk membekali tenaga pendidik beberapa keterapilan dasar mengajar dan pembelajara.
MACAM – MACAM KETERAMPILAN MENGAJAR
Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban siswa. Brown menyatakan bahwa bertanya adalah setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri siswa.
Komponen keterampilan bertanya yang perlu dikuasi guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.
  Komponen keterampilan bertanya dasar mencakup:
Penggunaan pertanyaan yang jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan sesuai taraf perkembangannya.
Pemberian acuan, berupa pernyataan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.
Pemindahan giliran dan menyebar pertanyaan, untuk melibatkan seluruh siswa semaksimal mungkin agar tercipta iklim pembelajaran yang menyenangkan.
Pemberian waktu berpikir pada siswa.
 Pemberian tuntunan, guru hendaknya memberikan tuntunan agar murid dapat menjawab sendiri ketika terdapat kesalahan dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh guru.
  Sedangkan komponen keterampilan bertanya tingkat lanjut yang perlu       diperhatikan adalah:
Pengubahan tuntunan tingkat kognitif, guru hendaknya dapat mengubah tuntunan tingkat kognitif siswa dalam menjawab pertanyaan dari tingkat yang paling rendah menuju tingkat yang lebih tinggi, yaitu: evaluasi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis.
Pengaturan urutan pertanyaan, pertanyaan yang diajukan hendaknya mulai dari sederhana menuju yang paling kompleks secara berurutan.
Pertanyaan pelacak, diberikan jika jawaban yang diberikan peserta didik kurang tepat.
Mendorong terjadinya interaksi, untuk mendorong terjadinya interaksi, sedikitnya perlu memperhatikan dua hal berikut: pertanyaan hendaknya dijawab oleh seorang peserta didik tetapi seluruh peserta didik diberi kesempatan singkat untuk mendiskusikan jawabannya bersama teman dekatnya dan guru hendaknya menjadi dinding pemantul
2.  Keterampilan Memberikan Penguatan
Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.Respon positif yang dilakukan guru atas perilaku positif yang dicapai anak dalam proses pembelajaran disebut juga dengan penguatan.
Penguatan atau reinforcement adalah segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpanbalik (feedback) bagi siswa atas perbuatan atau responnya yang diberiakan sebagai suatu dorongan atau koreksi.
 Ada dua jenis komponen penguatan yang bisa diberikan oleh guru, yaitu:
Penguatan Verbal.
Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata, baik kata-kata pujian, dukungan, dan penghargaan atau kata-kata koreksi.39Melalui kata-kata itu siswa akan merasa tersanjung dan berbesar hati sehingga ia akan merasa puas dan terdorong untuk lebih aktif belajar. Misalnya: pintar sekali, bagus, betul, tepat sekali, dan lain-lain.
Penguatan Nonverbal.
Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat.Contoh dari penguatan nonverbal yaitu:
Penguatan gerak isyarat atau gerakan mimik dan badan (gestural). Dalam hal ini guru dapat mengembangkan sendiri bentuk-bentuknya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku sehingga dapat memperbaikiinteraksi guru dan siswa.
 Penguatan pendekatan, misalnya: guru duduk didekat siswa, berdiri disamping siswa, atau berjalan di sisi siswa. Penguatan ini berfungsi menambah penguatan verbal.
Penguatan dengan sentuhan (contact), guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan cara menepuk-nepuk pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.
Penguatan dengan kegiatan menyenangkan.
  Penguatan berupa simbol-simbol dan benda, misalnya: kartu bergambar, bintang , dan lain-lain.
Keterampilan Menggunakan Variasi
Menggunakan variasi diartikan sebagai aktivitas guru dalam konteks proses pembelajaran yang bertujuan mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajar siswa selalu menunjukkan ketekunan, perhatian, keantusiasan, motivasi yang tinggi dan kesediaan berperan secara aktif.Variasi mengajar adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para siswa serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan.
Keterampilan Menjelaskan
Menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang sesuatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menuntut guru untuk memberikan penjelasan.
Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran merupakan keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai dan dilatih oleh para guru agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif, efisien, dan menarik. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam membuka dan menutup pelajaran mulai dari awal hingga akhir pelajaran.
Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah.
Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya, apabila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.Suatu kondisi yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas.
 Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.



DAFTAR PUSTAKA

Dharmaraj, Dr.William. 2015. LEARNING AND TEACHING B.Ed. I YEAR.
Departement of Education Manonmaniam Sundaranar University,
Tirunelveli

Crawford, Alan. 2015. TEACHING AND LEARNING STRATEGIES FOR
THE THINKING CLASSROOM. The International Debate Educaation Association

Boyer, E. L. (1990). Scholarship reconsidered: Priorities of the professoriate. Menlo Park, CA: Carnegie Foundation for the Advancement of Teaching

Entwistle, N. (2001). Styles of learning and approaches to studying in higher education. Kybernetes, 30(5/6), 593–603












SUMBER E-BOOK

https://www.sensepublishers.com/media/2489-teaching-for-learning-and-learning-for-teaching.pdf

https://translate.google.com/translate?hl=id&sl=en&u=https://www.sensepublishers.com/media/2489-teaching-for-learning-and-learning-for-teaching.pdf&prev=search
 
https://www.researchgate.net/publication/248607615_The_teaching_profession_knowledge_of_subject_matter_teaching_skills_and_personality_trait
RESUME

MANAJEMEN KELAS di SD

Tentang

Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas





OLEH:
Diki Wahyudi. S
1620234

DOSEN PENGAMPU : Yessi Rifmasri, M.Pd






PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR ( PGSD )
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) ADZKIA
2018/2019


Pengertian Prinsip-Prinsip Manajemen kelas
Dalam manajemen kelas terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan sebagai prasyarat menciptakan satu model pembelajaran yang efektif dan efisien, yaitu (Muhaimin,2002:137-144):
Prinsip Kesiapan (Readiness)
Kesiapan belajar ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, psikis, inteligensi, latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar.2. Prinsip Motivasi (Motivation)
Motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya motivasi pada peserta didik maka akan bersungguh-sungguh menunjukkan minat, mempunyai perhatian, dan rasa ingin tahu yang kuat untuk ikut serta dalam kegiatan belajar, berusaha keras dan memberikan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan tersebut serta terus bekerja sampai tugas-tugas tersebut terselesaikan.
Prinsip Perhatian
Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan yaitu berorientasi pada suatu masalah, meninjau sepintas isi masalah, memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan dan mengabaikan stimuli yang tidak relevan. Dalam proses pembelajaran perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya.
 Prinsip Persepsi
Prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah (a) makin baik persepsi mengenai sesuatu makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut. (b) dalam pembelajaran perlu dihindari persepsi yang salah karena hal ini akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari (c) dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik memperoleh persepsi yang lebih akurat.
Prinsip Retensi
Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah seseorang mempelajari sesuatu. Dengan retensi membuat apa yang dipelajari dapat bertahan atau tertinggal lebih lama dalam struktur kognitif dan dapat diingat kembali jika diperlukan. Karena itu, retensi sangat menentukan hasil yang diperoleh peserta didik dalam proses pembelajaran.
 Prinsip Transfer
Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat memengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Pengetahuan atau keterampilan yang diajarkan di sekolah selalu diasumsikan atau diharapkan dapat dipakai untuk memecahkan masalah yang dialami dalam kehidupan atau dalam pekerjaan yang akan dihadapi kelak.
Permasalahan Dalam Prinsip Manajemen Kelas
Ada dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1)      Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
Powerseeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) : Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam) : Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
Helplessness (peragaan ketidakmampuan) : Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri para siswa. Diantaranya yaitu :
a.    Jika guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari perhatian.
b.      Jika guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
c. Jika guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d.    Jika guru merasa tidak mampu menolong lagi, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah laku siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2)      Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a.     Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b.   Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c.      Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d.  Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang : Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e.  Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran kegiatan kelompok itu.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi, maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f.    Kurangnya semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes. Masalah kelompok yang paling rumit ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan, baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes atau keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang terjadi.
g. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu terjadi sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
Mengajar sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman dan motivator.
Berdasarkan pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.   Masalah pengarahan : Di waktu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses belajar-mengajar, kebanyakan guru kurang memiliki keterampilan dalam:
a.       Berorientasi kepada tujuan pelajaran.
b.      Mengkomunikasikan tujuan pelajaran kepada siswa.
c.       Memahami cara merumuskan tujuan umum dan khusus.
d.      Menyesuaikan tujuan pelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
e.       Merumuskan tujuan instruksional jelas.
Keadaan ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut, mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.
2. Masalah evaluasi dan penilaian : Guru dalam tugasnya untuk merencanakan,  melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a.        Guru dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas
b.      Prosedur evaluasi tidak jelas
c.       Guru tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang efisien dan efektif.
d.      Kebanyakan guru memiliki cara penilaian yang tidak seragam.
e.       Guru kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f.       Guru tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai bahan umpan balik.
Dengan evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai pengaruh pengajaran yang diberikan atau tidak.
3.   Masalah isi dan urut-urutan pelajaran : Dalam membuat perencanaan pengajaran, yang kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi, guru dalam menyusun isi dan urutan bahan pelajaran menemukan masalah sebagai berikut:
a.       Guru kurang menguasai materi
b.       Materi yang disajikan tidak relevan dengan tujuan
c.       Materi yang diberikan sangat luas
d.       Guru kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan dengan waktu yang tersedia
e.       Guru kurang terampil dalam mengorganisasikan materi pelajaran.
f.       Guru kurang mampu mengembangkan materi pelajaran yang diberikannya.
g.   Guru kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran dari materi pelajaran yang diberikan.
4.  Masalah metode dan sistem penyajian bahan pelajaran : Agar guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a.        Guru kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang menarik dan efektif.
b.      Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran dan materi pelajaran.
c.       Kurang terampil dalam menggunakan metode
d.      Sangat terikat pada satu metode saja
e.       Guru tidak memberikan umpan balik pada tugas yang dikerjakan siswa.
5. Masalah hambatan-hambatan : Dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya ialah:
a.       Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
b.      Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
c.       Guru kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.
d.      Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah
e.       Keadaan sarana yang kurang
f.       Guru kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.
Dengan menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah.
Kebijakan tentang prinsip manajemen kelas
prinsip manajemen sebagaimana yang dikemukakan oleh Henry Fayol yang sebagian besardapat diaplikasikansecara penuh untuk mengelola sekolah – termasuk kelas di dalamnya dengan baik, seperti pembagian kerja, keseimbangan wewenang dan tanggungjawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arah, mengutamakan kepentingan organisasi (sekolah) di atas kepentingan individu, kompensasi yang adil, sentralisasi, rantai scalar, tata tertib, keadilan, stabilitas kondisi karyawan (tenaga kependidikan yang ada di sekolah), inisiatif dan semangat kesatuan.
Atau paling tidak terdapat 4 (empat) prinsip yang digunakan MBSuntuk mengelola sekolah dan seterusnya ke kelas, yaitu prinsip ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip system pengelolaan mandiri , dan prinsip inisiatif sumber daya manusia (SDM). Di mana dari atau dalam hubungan dengan prinsip-prinsip ini dapat dilihat beberapa pengertian tentang pengelolaan kelas sebagai berikut,
pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif, yakni seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas, disiplin sangat diutamakan;
pengelolaan kelas yang bersifat permisif, yakni pandangan ini menekankan bahwa tugas guru adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa;
pengelolaan kelas yang berdasarkan prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku;












DAFTAR PUSTAKA
Hasri, Salfen. 2009. Sekolah Efektif dan Guru Efektif. Yogyakarta: Aditya Media Printing and Publising.
Nawawi, Hadari. 1982. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan. Jakarta : Gunung Agung.
Arikunto, Suharsimi. 1992. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Wijaya, Cece dan Rusyan, A. Tabrani. 1994. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mudasir. 2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Zanafa Publishing.
Muhaimin. 2002. Paradigma Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosyda Karya.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Almasawi,dkk. 2010. Masalah-masalah dalam Manajemen Kelas.